Featured

Islam dan Ajarannya

Islam disebarkan pertama kali pada abad ke-7 Masehi. Tidak kurang dari 1,5 miliar manusia yang telah menganut agama ini. Pembawa risalahnya tentu kita tahu, Nabi Muhammad SAW. Kata Islam kalau dalam bahasa Arab artinya berserah. Kata ini menunjukkan bentuk kepercayaan pengikutnya, Muslim, untuk senantiasa berserah diri pada kehendak Allah, tuhan semesta alam. Allah dipercaya sebagai tuhan yang mencipta dan menjaga segala aspek di alam semesta. Kehendak Allah diketahui melalui Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Nah, Nabi Muhammad inilah yang bertugas sebagai “penyambung lidah” tuhan kepada manusia. Selain Muhammad, muslim juga mempercayai keberadaan rasul selainnya, sering disebut 25 nabi dan rasul, seperti Adam, Idris, Nuh, Musa, Isa, dan lainnya. Dalam Islam, Muhammad bertindak sebagai penyempurna risalah para rasul sebelumnya sekaligus penutup para nabi dan rasul, khatamul ambiya wal mursalin, yang artinya tidak ada lagi rasul setelahnya.

Komunitas muslim awalnya hanya di Mekah, kota kecil di semenanjung Arab yang melayani transit pedagang ke berbagai tujuan. Sejak awal kemunculannya, Nabi Muhammad telah berusaha menyebarkan pemahaman keislaman ke berbagai daerah sekitar Mekah, meskipun lebih sering mendapatkan penolakan sih. Hijranya ke Madinah, kota di utara Mekah, pada tahun ke-10 kenabian membuka peluang ekspansi penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia seperti Afrika, Eropa, semenanjung India, Cina, hingga wilayah Nusantara. Alih-alih tunggal, persebaran ajaran Islam ke berbagai penjuru dunia ini tentunya menghasilkan keragaman praktik dan tradisi keagamaan. Setiap muslim bertempat disitulah muncul tradisi dan budaya keislaman yang punya ciri khas masing-masing.

Artikel ini akan mengulas tentang dasar kepercayaan dan praktik keagamaan Islam ya, sob. Beberapa hal fundamental ini akan menjadi pengetahuan dasar bagi seorang muslim agar menjadi lebih baik.

Pedoman Dasar Islam

14 abad yang lalu, Nabi Muhammad membangun komunitas muslim di semenajung Arab. Awalnya hanya komunitas kecil karena terdiri dari keluarga dan sahabat terdekatnya saja. Namun, berkat komunitas kecil inilah segala aspek dasar Islam dapat tersebar dan bertahan hingga saat ini. Hubungan dekat Nabi Muhammad dengan para sahabatnya menghasilkan keterikatan batin sehingga perjuangan egalitarianisme dapat terwujud. Semangat egalitarianisme ini pula yang dijadikan dasar hubungan sosial oleh setiap muslim. Pada masa ini dasar-dasar ajaran Islam dibentuk dan dijadikan pedoman menjalani kehidupan sehari-hari muslim generasi awal yang nantinya disistematisasi oleh generasi selanjutnya.

Upaya sistematisasi ajaran Islam dilakukan oleh ulama muslim jauh setelah wafatnya Nabi Muhammad. Upaya ini dilakukan untuk mempermudah sekaligus merespon perkembangan jumlah penganutnya. Tidak bisa dipungkiri, jumlah yang lebih banyak dengan “isi otak” umat muslim yang lebih beragam menuntut penerus ajaran Nabi untuk senantiasa berinovasi. Sesuai kata Nabi, awalnya umat muslim berpedoman pada Kalamullah dan sunah (jejak perilaku/teladan) Nabi ditambah sunah penerusnya, yang sering disebut khulafa al-rasyidin. Namun ulama sepakat menguraikan dasar agama Islam setidaknya pada 4 hal, Al-Qur’an, sunah, ijma’ (konsensus), dan qiyas (analogi).

Al-Qur’an

Secara harfiah berarti bacaaan, ialah kalam (kata-kata) tuhan yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Al-Qur’an terbagi menjadi 114 surah (bagian) yang terkumpul secara sistematis dalam bentuk buku (mushaf). Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah biasanya berisi ajaran tauhid, moral dan etika, serta hari pembalasan. Sedangkan pada periode Madinah, ajaran Al-Qur’an sebagian besar terkait dengan hubungan sosial serta prinsip politik-etis untuk mengatur kehidupan bermasyarakat.

Sunah

Sunah dalam istilah Arab pra-Islam menunjukkan hukum kesukuan atau hukum secara umum. Sedangkan muslim menggunakan istilah ini untuk menyebut teladan Nabi, yaitu perkataan, perbuatan, dan ketetapannya. Kompilasi sunah dilakukan ulama pada abad ke-3 Hijriyah dengan menyebutnya sebagai hadis (yakni laporan; atau kumpulan ucapan yang dikaitkan dengan Nabi). Hadis memberikan dokumentasi tertulis dari kata-kata, perbuatan, dan keketapan Nabi.

Ijma’

Yakni konsensus, diperkenalkan pada abad ke-2 Hijriyah untuk mengatasi perbedaan teori dan praktik hukum individu dan regional kaum muslimin. Ijma’ menjadi penting ketika persebaran Islam telah mencapai belahan dunia lain yang berbeda budaya dan tradisi. Ulama yang bersepakat harus memenuhi kriteria mujtahid dengan penguasaan ilmu keislaman yang mumpuni. Dengan demikian, Sunnah nabi dan Al-Qur’an dalam praktik kehidupan muslim sering kali berdasar pada kesepakatan para ulama ini.

Qiyas

Qiyas disisi lain menjadi bagian penting dalam menjawab problem kekinian di tubuh kaum muslimin. Awalnya Ijtihad menjadi bagian utama dasar ajaran islam sampai akhirnya terjadi keragaman pendapat yang menimbulkan perpecahan sehingga Qiyas (penalaran dengan analogi yang ketat) menjadi dasar pemecahan masalah. Metodologi Qiyas yakni dengan melakukan deduksi berdasarkan teks Qur’an dan Hadis sehingga problem kekinian mendapatkan legitimasi kuat.

Doktrin Islam dalam Al-Qur’an

Tuhan dan Makhluk

Doktrin tentang Tuhan dalam kitabullah itu sangat monoteistik: Tuhan itu esa dan unik; dia tidak memiliki pasangan dan tidak ada tandingannya. Meskipun kehadirannya diyakini ada di mana-mana, dia tidak menjelma dalam bentuk apa pun. Dia adalah satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta, di mana setiap makhluk menjadi saksi kesatuan dan ketuhanan-Nya. Muslim menyebutnya Allah dengan segala atributnya. setidaknya ada 99 nama yang dikenalkan pada setiap muslim untuk menujukkan setiap posisi tuhan dalam segala urusan manusia seperti keadailan (al-‘adl) dan kasih sayang (al-Rahman). Tuhan juda menyandang sifat-sifat seperti wujud, qidam, baqa dan lainnya yang berjumlah 20.

Di sisi lain, Tuhan (al-Khaliq/sang pencipta) menciptakan makhluk. Kalam Allah menginformasikan bahwa alam semesta beserta isinya ialah makhluk-Nya. Manusia hanyalah salah satu dari sekian banyak makhluk Allah yang ditugaskan untuk menaati perintah dan larangan-Nya. Berbeda dari makhluk lain yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap aturan tuhan, makhluk bernama manusia ini dapat memilih dan menentukan arah kehidupannya (meskipun tetap dalam aturan tuhan secara global) dengan Akal yang dikaruniakan Allah padanya. Wahyu yang diterima Nabi Muhammad ini mengaitkan makhluk dalam upaya menjelaskan setiap aspek ketuhanan kepada manusia.

Risalah/kenabian

Tuhan ialah entitas yang secara harfiyah tidak mungkin disentuh oleh makhluk. Namun, manusia membutuhkan arahan untuk tetap pada pilihan yang terbaik dalam mengarungi hidup di dunia. Inilah peran Rasul yang mampu menjadi penghubung tuhan dengan manusia. Rasul dipilih langsung oleh tuhan, bukan atas usaha tertentu. Tuhan berkomunikasi dengan para rasul dengan berbagai cara, seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad, ia berkomunikasi via Malaikat Jibril berkaitan dengan kalam Allah, sedangkan pada konteks lain sering pula berupa mimpi.

Para nabi yang juga manusia tentu berhubungan juga dengan manusia yang lain sebagai makhluk sosual. Tugas kenabian selain menyampaikan arahan jalur kebenaran dari tuhan juga melayani masyarakat dengan ikut serta menyelesaikan beragam problem. Mereka juga dikaruniai mukjizat yang dapat mendukung misi dakwahnya seperti Nabi Ibrahim yang tahan api saat dibakar kaumnya, Nabi Musa dengan tongkat pembelah lautnya, Nabi Isa yang lahir tanpa ayah, dan tentutnya Nabi Muhammad dengan al-Qur’an.

Eskatologi (Pasca-kiamat)

Dalam doktrin Islam, pada hari kiamat, orang mati akan dibangkitkan dan dihakimi sesuai dengan perbuatannya di dunia. Evaluasi yang dilakukan oleh Tuhan sangat mendetail pada setiap individu. Untuk membuktikan bahwa kebangkitan akan terjadi, Al-Qur’an menggunakan argumen moral dan fisik karena tidak semua pembalasan dilakukan di dunia, maka penghakiman terakhir diperlukan untuk menyelesaikannya.

Pada hari tersebut, manusia berkesempatan memperoleh Syafaat. Syafaat ini adalah bentuk belas kasih Allah pada manusia yang berbuat dosa tertentu. Nabi Muhammad dipercaya dapat memberikan syafaat bagi umatnya. Mereka yang dihukum akan dibakar api neraka , dan mereka yang diselamatkan akan menikmati sukacita di surga. 

Praktik dan Institusi Keagamaan Islam

Lima Pilar Islam

Pilar pertama ialah syahadat (pengakuan iman) yakni mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Pengakuan ini setidaknya dilakukan sekali seumur hidup dengan kesadaran dan ketulusan untuk berserah diri pada Allah. Pengakuan iman ini berkonsekuensi pula pada pengakuan terhadap 5 hal yakni, malaikat, rasul, kitab, hari akhir, dan qadha-qadar yang sering disebut 6 rukun iman.

Pilar kedua ialah salat. Salat merupakan doa yang ritualnya telah ditentukan, mulai dari takbiratul ihram hingga salam. Setiap muslim berkewajiban melaksanakan 5 kali salat yakni sebelum terbitnya matahari (subuh), setelah siang hari (duhur), sore hari (asar), setelah matahari terbenam (magrib), dan sebelum tidur (isya’). Salat dapat dilakukan secara individu ataupun secara berkelompok di masjid/musala. Pada setiap waktu salat biasanya para muazin mengumandangkan azan, seruan menunaikan salat.

Zakat (berderma) merupakan pilar Islam ketiga. Setidaknya zakat dilaksanakan oleh setiap individu pada bulan ramadan menjelang hari raya Idul Fitri. Bagi muslim yang berkecukupan harta, mereka juga berkewajiban menunaikan zakat mal untuk mensucikan hartanya setiap tahun. dalam hal zakat mal, 2,5 % harta wajib dikeluarkan setiap tahun pada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) baik secara langsung atau melalui lembaga amil (pengumpul zakat).

Pilar keempat yakni puasa yang dilakukan setiap tahun pada bulan Ramadan. Setiap muslim berkewajiban menahan lapar, haus, dan nafsu seksual selama puasa berlangsung mulai dari sebelum terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Pada beberapa tempat, waktu berpuasa bisa mencapai +-20 jam. Meskipun wajib, muslim yang dalam perjalanan atau sedang sakit bisa tidak berpuasa dengan mengganti di lain waktu atau membayar denda.

Pilar Islam terakhir adalah haji di baitullah yang terletak di Masjidilharam Mekah. Muslim yang berkemampuan baik fisik, spiritual, dan finansial berkewajiban untuk melaksanakannya. Haji dilakukan pada bulan Zulhijjah dengan ritual tertentu seperti wukuf (berdiam diri di wilayah Arafah), Sa’i (lari-lari kecil antara bukit safa dann marwa), dan tawaf (mengitari kakbah 7 kali).

Tempat dan Waktu yang Disucikan dalam Islam

Tempat paling suci bagi umat Islam adalah Kakbah di Mekah. Objek ziarah tahunan ini lebih dari sekadar masjid. Muslim meyakini bahwa kakbah merupakan tempat di mana kebahagiaan dan kekuatan surgawi menyentuh bumi secara langsung. Menurut tradisi Muslim, Ka’bah dibangun oleh Ibrahim. Masjid Nabawi di Madinah adalah tempat suci berikutnya yang ramai dikunjungi setiap tahun. Yerusalem mengikuti di tempat ketiga dalam kesucian karena dulunya sebagai kiblat pertama (yaitu, arah di mana umat Islam berdoa pada awalnya, sebelum kiblat diubah ke Kakbah) serta sebagai tempat Nabi Muhammad, menurut riwayat, memulai miʿrāj menghadap Allah.

Pada berbagai tempat di dunia juga tersebar tempat yang disucikan. Biasanya merupakan tempat bersejarah dan makam ulama kharismatik. Di Baghdad misalnya, makam Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ramai diziarahi setiap tahun. tidak luput pula makam para Wali Songo di pulau Jawa menjadi tempat yang disucikan oleh muslim setempat karena, salah satunya, peran serta mereka dalam mendakwahkan Islam.

Masjid yang tersebar hampir di setiap pemukiman penduduk merupakan tempat yang disucikan. Pada zaman Nabi dan khalifah awal, masjid adalah pusat dari semua kehidupan masyarakat, dan tetap demikian hingga hari ini. msjid menjadi tempat sentral kegiatan muslim mulai dari beribadah (salat, khutbah di hari jumat), pendidikan, hingga urusan sosial kemasyarakatan. Bahkan disekitar masjid juga banyak pedagang kecil yang ikut menggerakkan ekonomi kemasyarakatan.

Umat muslim biasanya mendapatkan hari libur setidaknya 2 kali dalam 1 tahun, yakni pada har raya Idul Fitri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Zulhijjah) pada penanggalan Hijriyyah. Di beberapa negara mayoritas muslim seperti Indonesia, hari libur keagamaan bisa lebih banyak seperti awal tahun Hijriyyah, Maulid Nabi Muhammad, dan beberapa hari sebelum berakhirnya bulan Ramadan.

Duta Santri Nasional Gelar Ngaji Literasi Digital Zona Jawa Timur, Wujudkan Santri Makin Cakap Digital

Duta Santri Nasional bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika RI serta Siberkreasi menggelar Ngaji Literasi Digital Zona Jawa Timur di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi pada Jumat (26/8/2022).

Kegiatan tersebut bertema “Santri Makin Cakap Digital”. Hal ini bertujuan untuk mengajak santri untuk cakap dalam menggunakan teknologi.

Ratusan peserta yang terdiri dari santri, pengurus, dan organisasi kepemudaan di lingkungan Pondok Pesantren mengikuti acara secara langsung di Auditorium Pondok Pesantren Darussalam Blokagung.

Ngaji Literasi Digital dihadiri secara langsung oleh K.H. Abdul Malik Syafaat selaku pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blokagung.

“Ada tiga hal yang harus dikuasai oleh santri zaman sekarang. Yang pertama adalah kemampuan bekerja sama, kemudian yang kedua adalah kemampuan membangun mimpi, dan yang terakhir adalah pembentukan mental. Jika ketiga aspek tersebut sudah dikuasai oleh santri, maka ia akan bisa ¬survive di tengah masyarakat,” demikian nasehat beliau dalam sambutannya.

Selain itu, Kiai Abdul Malik Syafaat juga menyebutkan pentingnya pesantren untuk mengikuti perkembangan zaman.

“Pesantren ‘mati’ bukan karena apa-apa, akan tetapi sebab terlambat mengikuti perkembangan zaman, sehingga tidak tidak bertumbuh, dan akhirnya dianggap menjadi bagian dari masa lalu,” tegasnya dalam welcoming speech Ngaji Literasi Digital.

Direktur Jenderal APTIKA KEMKOMINFO, Samuel Abrijani Pangerapan melalui daring mengungkapkan, kehadiran teknologi digital sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat inilah kemudian mempertegas bahwa kita sedang berada di era percepatan tranformasi digital. Tetapi ada sisi lain dari masifnya perkembangan dan penggunaan internet harus kita akui menimbulkan resiko, seperti penipuan online, bullying, konten berbau sara, dan lainnya.

“Oleh karena itu peningkatan penggunaan teknologi ini perlu diimbangi dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni, agar masyarakat menggunakan teknologi secara produktif, bijak, dan tepat guna,” ungkap Samuel.

Sementara itu, Ketua Umum Duta Santri Nasional Syifa’ Nurda Mu’affa berharap melalui kegiatan tersebut para santri bisa memanfaatkan teknologi digital sehingga mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan makin bersemangat dalam belajar.

Dipandu Ubaidillah selaku moderator, tiga narasumber menyampaikan materi tentang literasi digital, mulai dari budaya digital (digital culture), kecakapan digital (digital skill), hingga etika digital (digital ethics).

Adapun ketiga narasumber tersebut adalah Ning Atina Balqis Izzah Iskandar (Penulis Buku Tentang Muslimah), Ning Khilma Anis (Penulis Novel Best Seller Hati Suhita), dan Ning Intan Budiana Putri (Influencer Santri).

Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif dan foto bersama narasumber. Besar harapan Keluarga Duta Santri Nasional, para santri bisa menjadi konten kreator yang mewarnai media sosial dengan konten positif bermuatan nilai-nilai islam rahmatan ‘lil alamin.

Kegiatan literasi digital tersebut juga disiarkan secara live streaming pada platform digital Pondok Pesantren Darussalam Blokagung dan dikabarkan melalui berbagai media cetak dan online.

Duta Santri Nasional Gelar Kick Off Ngaji Literasi Digital

Duta Santri Nasional secara resmi memulai pelaksanaan program Ngaji Literasi Digital melalui Kick Off yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan pada Sabtu (13/8/22). Ngaji Literasi Digital merupakan program kerja sama antara Duta Santri Nasional dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI serta Siberkreasi. 

Kegiatan Kick Off yang dilangsungkan secara luring (offline) ini melibatkan ratusan santri dari berbagai pondok pesantren di Sumatera Utara. Diantaranya dari Pondok Pesantren Darul Quran, Pondok Pesantren Darul Hikmah TPI, Pondok Pesantren Ta’dib Al Syakirin, serta Pondok Pesantren lain di Medan dan sekitarnya.

Program ini tidak saja sebagai tuntutan perkembangan global, tetapi juga akan memberikan banyak manfaat kepada santri dan pondok pesantren di Indonesia. Kick Off ini merupakan permulaan dari serangkaian program Ngaji Literasi Digital dari Duta Santri Nasional yang ke depannya akan dilaksanakan di beberapa titik di seluruh Indonesia.

Ketua Umum Duta Santri Nasional, Syifa’ Nurda Mu’affa dalam sambutannya mengatakan bahwa program ini sebagai upaya mengedukasi santri agar cakap digital. “Ngaji Literasi Digital merupakan sebuah program yang bertujuan untuk membekali santri dalam memanfaatkan serta mengisi ruang digital dengan konten yang bermanfaat dan lebih moderat (tawasuth).” ujarnya.

Selain itu, Syifa’ Nurda Mu’affa juga menambahkan bahwa dalam proses transformasi digital santri harus menjadi aktor. “Melihat perkembangan dunia digital yang semakin cepat, santri harus segera mengambil tempat. Santri harus berada pada posisi yang strategis dan ikut mewarnai proses digitalisasi.”

Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah sangat mengapresiasi program Ngaji Literasi Digital yang diadakan Duta Santri Nasional. Besar harapan beliau, agar program semacam ini dapat terus terlaksana sehingga dapat berdampak positif bagi santri dan pondok pesantren, khususnya dalam meningkatkan kecakapan digital para santri.

“Semoga para santri semakin cakap digital sehingga mampu mewarnai ruang digital Indonesia dengan konten yang rahmatan lil alamin,” ucap Ijeck, sapaan akrab Musa Rajekshah.

Ketua Komisi 1 DPR RI Meutya Hafid dalam sambutannya pada Kick Off Ngaji Literasi Digital tersebut, turut menyampaikan apresiasi kepada Duta Santri Nasional yang telah mengambil langkah strategis dalam merespon perkembangan dunia digital.

“Program yang mengusung tema ‘Santri Makin Cakap Digital’, sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kita ketahui bersama, TIK berkembang sangat cepat yang ditandai dengan pembangunan infrastruktur TIK, internet, era big data, artificial intelligent, internet of thing (IoT), hingga terjadinya revolusi industri 4.0 menuju 5.0. Praktis, sebagian aktivitas telah bergeser dari manual ke platform digital,” katanya.

Waketum MUI Sumatera Utara Dr. H. Ardiansyah juga menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program Ngaji Literasi Digital. Menurutnya, program ini sangat dibutuhkan oleh santri dan pondok pesantren.

“Mudah-mudahan kegiatan Ngaji Literasi Digital ini dapat membuka wawasan para santri dan santriwati sehingga lebih cakap digital dan membawa keberkahan dari Allah SWT,” 

Apresiasi baik lainnya pun muncul dari berbagai pihak, seperti Bapak Sandiaga Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Ibu Ida Fauziyah (Menteri Ketenagakerjaan), Bapak Waryono Abdul Ghofur (Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama), dan lain sebagainya, yang menyambut hangat terselenggaranya Program Ngaji Literasi Digital yang diadakan oleh Duta Santri Nasional dan Kominfo tersebut.

Awali Berbuka dengan Enting Gepuk Khas Salatiga

Awali berbuka dengan enting-enting gepuk khas salatiga

Buka puasa enaknya makan yang manis-manis. Selain disunnahkan, makan makanan manis juga memberikan tenaga ekstra untuk melakukan aktivitas pascaberbuka. Jajanan yang patut dicoba sebagai kudapan saat berbuka puasa yaitu Enting enting gepuk. Kudapan ini merupakan makanan ringan yang terbuat dari kacang tanah, gula pasir, air, dan vanili. Kebanyakan bentuknya prisma segitiga sama kaki dan dibungkus dengan kertas. Rasanya manis, gurih, renyah dan rasa khas kacang tanah sangat terasa. Dinamakan gepuk karena proses pembuatannya digepuk sampai halus hingga semua bahan tercampur jadi satu.


Enting-enting gepuk dibuat tanpa bahan pengawet dan pewarna. Makanan ini mudah didapatkan tidak hanya di Salatiga, tetapi juga di toko-toko di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Enting-enting gepuk dapat bertahan hingga 6 bulan. Enting-enting gepuk terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan kulit dan lapisan isi. Lapisan kulit lebih keras, renyah, dan terasa manis karena lebih banyak mengandung gula. Sedangkan isi utamanya adalah kacang tanah yang ditumbuk halus.


Saat ini, enting-enting gepuk memiliki beberapa varian rasa. Adayang rasa durian, jeruk, cokelat, dan jahe. Ada pula enting-enting gepuk yang menggunakan gula merah, sehingga rasanya tidak terlalu manis seperti menggunakan gula pasir. Tentu saja dengan varian yang beragam, penikmat eenting-enting gepuk bisa memilih rasa sesuai selera.


Sekelumit Sejarah Enting-enting


Mulanya enting-enting gepuk ini dirintis oleh seorang imigran dari Fukikian China yaitu Khoe Choeng Hok. Khoe Choeng Hok mulai merintis usahanya pada tahun 1920-an. Pembuatan pertama kali dilakukan di Klenteng HOK TEK BIO No 13 Salatiga, karena Khoe Choeng Hok merupakan juru kunci klenteng Hok Tek Bio. Karena dulu diproduksi di dalam klenteng maka di merek menggunakan nama KLENTENG & 2 HOOLO tulisan “Khoe” pada hoolo kanan dan tulisan ”xiong di jie mai” pada hoolo kiri. Hal tersebut melambangkan bahwa Khoe dan Xiong Di Ji Mai adalah saudara (kakak, adik) yang melambangkan produksi Khoe Choeng Hok dan Xiong Di Ji Mai dari keluarga KHOE.


Saat pertama kali enting-enting gepuk diproduksi bungkusnya masih menggunakan klobot (kulit jagung). Cara penjualannya juga masih sederhana, hanya menggunakan tampah, blek atau kaleng. Awalnya Enting-enting dijual hanya di dalam kampung sendiri dan sekitarnya saja, namun kini enitng gepuk sudah dikemas menggunakan kertas dan dipasarkan ke seluruh pusat oleh-oleh di kota Salatiga. Bahkan sekarang sudah sampai ke luar kota, seperti kota Semarang, Kabupaten Boyolali, dan Solo.


Dalam sejarahnya Khoe Choeng Hok saat itu membuat enting-enting gepuk di Kelenteng namun setelah Khoe Tjong Hok wafat, pembuatan enting-enting gepuk sudah tidak diperbolehkan di dalam klenteng lagi, sehingga anak-anak dari Khoe Tjong Hok meneruskan usahanya sendiri-sendiri. Khoe Tjong Hok meninggalkan empat anak yaitu, Khoe Djon Nio, Khoe Poo liong, Khoe Djio Nio dan Khoe Tang Nio. Keempat anaknya itu sekarang membuka usaha enting-enting gepuk semua.


Masyarakat Salatiga jangan heran kalau menemukan enting-enting gepuk dengan merk KLENTENG & 2 HOOLO bahkan merk yang lainnya di tempat yang berbeda. Dengan demikian sekarang enting-enting gepuk mengalami perkembangan yang sangat pesat, salah satu anak dari Khoe Tjong Hok menjadi produsen enting gepuk terbesar di Salatiga. Usaha yang dulu masih industri rumahan, sekarang menjadi industri kecil menengah. Bagi teman-teman yang mampir daerah Salatiga dan sekitarnya jangan lupa mencoba kudapan ini ya, cocok sekali buat mengawali buka puasa atau suguhan saat lebaran nanti.

Pes: Lauk Buka Puasa anti Krisis Minyak Goreng

Netizen Indonesia sempat dihebohkan oleh Megawati yang mendemonstrasikan cara membuat lauk tanpa minyak goreng. Namun jauh sebelum itu, orang-orang di Lombok, khususnya area pedesaan, sudah terbiasa membuat lauk hanya dengan daun kelor atau ubi. Salah satu lauk yang cukup terkenal di Lombok adalah Pes, makanan khas lombok yang ditempat lain disebut juga pepes karena pembungkusnya menggunakan daun pisang.

Sebagai penduduk asli pesisir Lombok Timur, Kelangkaan minyak goreng bukanlah suatu masalah besar di kampung kami. Kami sudah terbiasa untuk mengolah minyak goreng dari kelapa, salah satu komoditas utama area pesisir. Proses pengolahan kelapa ini biasanya disebut njeleng. Dari hasil njeleng ini nantinya akan diperoleh bahan utama pembuatan pes. 

Njeleng dimulai dengan membelah kelapa lalu memarutnya. Hasil parutan akan diperas, setelahnya kelapa hasil parutan dipisah dengan hasil perasan. Apabila cuaca panas, hasil perasan biasanya dijemur seharian, jika mendung, maka Ibu saya akan menggunakan kobaran api. Pascapenjemuran, dilakukan proses penyaringan. Penyaringan akan menghasilkan minyak dan ampas, minyak kelapa biasa dipakai untuk menggoreng dan keperluan lain serta ampas minyak kelapa yang bisa menjadi bahan utama membuat pes.

Cara Pembuatan Pes

Proses pembuatan pes tidak terlalu rumit. Taruh bahan utama dan isian yang sudah dicampur secara merata di atas daun pisang yang sudah dibersihkan. Untuk memudahkan, gelar daun pisang dan potong agak panjang sebelum menaruh bahan. Setelahnya daun pisang digulung. Untuk menguatkan gulungan agar tidak mudah terbuka, lidi ditusukkan di kedua ujung daun. Dalam sekali proses njeleng, bisa dihasilkan bahan utama untuk dua sampai tiga gulungan pes. Gulungan-gulungan tersebut nantinya dibakar menggunakan arang, bisa juga sisa dari pembakaran setelah memasak daun kelor atau lauk lainnya. Jika ingin mendapat aroma yang lebih spesial, adonan pes bisa ditambahkan daun kemangi, boleh juga perasan atau daun jeruk nipis.

Sejauh yang saya amati, Ibu saya membuat pes dengan model yang cukup variatif. Variasi biasanya terletak pada isian dari pes, kadang dicampur ikan tongkol, ikan teri, udang, daging kambing atau sapi, bahkan beberapa kali Ibu saya mencampurnya dengan jantung pisang yang sudah dimasak.

Bagaimana Rasanya?

Masalah rasa, kelezatan pes tidak diragukan lagi. Pada umumnya, pes memiliki rasa asam yang khas, ditambah rasa sedikit pedas membuat lidah tidak ingin berhenti menyicipi. Di bagian terluar pes, biasanya ada bagian yang cukup gurih, bagian tersebut juga menjadi favorit para penikmat lauk ini.

Rasa dari pes juga sebenarnya masih bisa diatur sesuai selera. Bila tidak suka pedas, unsur cabai bisa dihilangkan, hal ini tidak menghapus esensi kelezatan. Bagi saya yang suka pedas, biasanya menambahkan jumlah irisan cabai agar pedasnya semakin terasa di mulut. Cabai yang sudah dibakar bersama pes selalu menggugah selera. Jika ingin mendapat lebih banyak bagian yang gurih, gulungan pes tinggal dibakar cukup lama sampai daun pisang terlihat mengering.

Cara menyantap pes biasanya diawali dengan membuka gulungan daun pisang dengan mencabut dua lidi di ujungnya atau membelah langsung daun pisang dari tengah. Saat dibuka, aroma kenikmatan pes biasanya langsung merasuki hidung. Pes ini umumnya digunakan sebagai lauk oleh masyarakat sekitar di desa Korleko Selatan tempat saya tinggal, boleh juga dimakan langsung tanpa nasi.

Ternyata, kelangkaan minyak goreng di bulan ramadhan 2022 membawa hikmah yang luar biasa. Ibu yang belakangan sering memakai minyak goreng bantuan Covid-19 untuk memasak, kembali memakai cara tradisional memanfaatkan kelapa yang kami petik dari kebun, dan hidangan pes yang super lezat bisa terhidang menemani buka puasa kami.

Qasidah Burdah Versi Sunda karya Kiai Ahmad Fadlil

Qasidah Burdah merupakan salah satu karya sastra Islam fenomenal dalam lintas tradisi sejarah. Ia merupakan hasil sentuhan tangan pujangga masyhur dari Mesir yaitu Imam al-Busyiri. Qasidah ini tercetus pada abad ke-13 Masehi yakni pada masa transisi perpindahan kekuasaan Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamluk.

Kisah Imam Busyiri menulis karyanya ini cukup fenomenal. Suatu ketika Imam al-Busyiri mengidap penyakit yang cukup parah dan dalam waktu yang amat lama. Ia menggunakan kesempatan itu untuk menulis berbait-bait syair. Kerinduannya kepada Nabi Muhammad saw ia lepaskan dalam bentuk syair-syair indah sembari memohon pertolongan kepada Allah swt agar disembuhkan penyakitnya.

Pada suatu malam ketika ia dalam keadaan tidur, Imam Busyiri bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya, Nabi Muhammad saw memberikan sebuah selendang (dalam bahasa Arab disebut burdah) dan diletakan di atas tubuhnya yang sakit. Saat Imam al-Busyiri bangun dari tidurnya, tiba-tiba sakit yang ia derita selama ini sembuh. Dari sana kemudian, gubahan syair-syair yang ia tulis selama ini ia namai dengan Qasidah Burdah.

Cerita-cerita tentang keajaiban sembuhnya Imam al-Busyiri pun tersebar ke seluruh pelosok dunia, hingga kemudian Qasidah Burdah dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Secara keseluruhan isi dari syair Qasidah Burdah ini mengandung pujian-pujian kepada Nabi Muhammad saw.

Struktur dari syair-syairnya tersebut sangat menyentuh dan mendalam. Tidak hanya itu, di dalamnya juga mengajarkan nilai-nilai tasawuf seperti syauq, mahabbah, zuhud, taubat, khauf, wara dan lain sebagainya.

Sosok Kiai Ahmad Fadhil

Di Indonesia, Qasidah Burdah seringkali didendangkan bersamaan dengan Barzanji ketika dalam acara-acara peringatan hari besar Islam terkhusus lagi dalam acara maulidan. Menurut sebagian kalangan, syair Qasidah Burdah dikenalkan oleh pedagang yang menyebarkan Islam dari Gazarat bersamaan dengan Barzanji. Alasan kuat diterimanya syair ini dan menjadi populer karena mengandung nilai-nilai sufistik yang sejalan dengan Islam di tanah Nusantara.

Qasidah Burdah diterjemahkan pada abad ke-19 oleh seorang kiai kharismatik yang juga seorang perjuang kemerdekaan, K.H. Ahmad Fadlil. Ia berasal dari Ciamis, Salah satu kabupaten bagian selatan Jawa Barat yang berdekatan dengan salah satu pantai terkenal, Pantai Pangandaran.

K.H. Ahmad Fadlil adalah sosok kiai yang sangat mencintai sastra. Ia juga merupakan kiai yang juga mencintai nilai-nilai lokalitas budaya. Pada tahun 1929, ia mendirikan sebuah pondok pesantren Cidewa yang saat ini kemudian berubah nama menjadi Darussalam Ciamis.

Pada tahun 1950, di usianya yang terbilang masih cukup muda, 40 tahun, ia wafat. Menurut dari beberapa cerita, ia wafat ketika sedang berjuang melawan penjajah Belanda di belantara hutan, hingga kemudian keberadaan makamnya sampat saat ini tidak ditemukan. Meskipun demikian, ia meninggal sebuah peninggalan yang amat berharga, yaitu murid-muridnya, pesantren dan karya sastra monumentalnya.

Keindahan Qasidah Burdah dalam Sastra Sunda

Qasidah Burdah memiliki keindahan dari struktur susunan bahasanya yang teratur. Ciri khasnya ialah akhiran mimiyat (dibaca secara bersama-sama) sehingga pendendangnya mudah dihafal. Selain itu, Qasidah Burdah juga dapat dibaca dengan berbagai irama lagu sehingga kemudian menjadi satu-satunya puisi kesustraan bahasa Arab yang paling kuat bertahan.

Mengacu pada struktur bahasa sastra Arabnya tersebut, Kiai Fadlil juga mampu menghadirkan terjemah sastra Sunda dari Qasidah Burdah yang memiliki keindahan khasnya. Ia juga mampu menghadirkan susunan menggunakan akhiran mimiyat di mana semua baitnya berakhiran i-i-i.


أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
Naha emut ka tatangga mangkuk di tanah Dzi salam # Ceurik campur getih ngocor cai soca miwah sami


أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ
Naha selenting bawaning angin ti tanah kadimah # Atawa kolepat kilat waktos poek di Idomi


فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ
Geuning panon titah saat kalah ngocor oge ati # Titah cageur henteu lemper ngabibingung bae kami


أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ
Naha nyangka nu kapelet rasiahna mo kajudi # Padahal cisoca ngocor ati baringsang geus lami

Menurut Fadlil Yani (2009), terjemah sastranya memiliki gaya yang natural dan tersampaikannya amanat secara komunikatif. Hal ini kemudian sangat wajar mendapatkan apresiasi yang tinggi dari masyarakat tatar Sunda hingga kemudian mendapatkan gelar Ajengan Sastrawan.

Kiranya, ini menjadi warisan khazanah intelektual Islam yang tak ternilai. Terjemah ini merupakan ekpresi sastra Sunda Islam yang menampilkan lokalitas nilai-nilai sufistik dan memuat tata bahasa yang sarat akan kebudayaan lokal. Sampai saat ini, terjemah Sundanya tetap terus didendangkan dan diteruskan oleh putranya, kiai Irfan Hielmy (alm), hingga cucunya, kiai Fadlil Yani Ainusyamsi, bahkan dimusikalisasi olehnya dan juga sebagai terapi musik sufistik.

Abdullah bin Mas’ud dan Corak Khas Penafsirannya

Biografi Abdullah bin Mas’ud

Di antara tokoh yang menekuni kajian pemahaman Al-Qur’an di masa sahabat ialah Abdullah bin Mas’ud (w. 653 M). Ibnu Mas’ud menjadi salah satu tokoh kunci sebagai rujukan utama tafsir di masa sahabat yang sebanding dengan nama lain seperti Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas (w.687 M), Ubay ibn Ka’b (w. 640 M), dan Zayd ibn Tsabit (w. 665 M).

Pada masa ini, Ibnu Mas’ud dan sahabat penafsir lain belum terlalu mengemuka karna selain penyampaian masih berupa oral dari lisan ke lisan juga karena factor masih adanya Nabi Muhammad SAW sehingga apabila terdapat problematika berkaitan dengan Al-Qur’an bisa langsung mendapatkan jawaban dari Nabi sebagai manifestasi penyampai Kalamullah.

Husain Adzahabi dalam At-Tafsir wa Al Mufassirun menjelaskan bahwa nama Abdullah Ibnu Mas’ud adalah Abdullah Ibnu Ghafil yang nasabnya sampai pada Mudhar. Sedangkan nama kuniahnya adalah Abu Abdurrohman Al Hadzali. Sedangkan nama nasabnya ialah Abdullah bin Ghafil bin Syamakh bin Fail bin Makhzum bin Sahilah bin Kahil bin Al Haris bin Tamim bin Sa’ad bin Huzail bin Mas’ud. Ibnu Mas’ud juga akrab dipanggil Abu Abdurrohman.

Ibnu Mas’ud merupakan salah satu sahabat yang pertama masuk Islam. Ia adalah sahabat keenam yang bersyahadat. Ia sempat hjrah dua kali ke Habasyah dan mengikuti seluruh peperangan Bersama Nabi Muhammad. Menurut Sebagian Riwayat, Abdullah Ibnu Mas’ud ialah sahabat yang berhasil membunuh Abu Jahal.

Dalam Thabaqat al-Kubra li Ibn Sa’ad dan juga kitab Tadzkirah al-Huffazh dijelaskan bahwa Rasulullah pernah memberikan rekomendasi kepada para sahabat: “siapa yang ingin membaca Al-Qur’an dengan baik sebagaimana ia diturunkan oleh Allah, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Umm ‘Abd (Abdullah bin Mas’ud).

Menjadi Hakim dan Pengelola Baitul Mal

Saat Umar ibn Khattab menjadi khalifah, Abdullah bin Mas’ud didaulat menjabat sebagai hakim dan pengelola Baitul Mal untuk wilayah Kuffah periode Gubernur Amar bin Yasir (w. 37 H/657 M). Jabatan ini berlanjut sampai periode Sa’ad ibn Abi Waqas. Pengangkatan Abdullah bin Mas’ud terjadi seiring bersamaan dengan pengangkatan Abu Musa al-Asy’ari dan Anas bin Malik di Bashrah; Syarahbil ibn Hasanah di Ardan; Mu’awiyah ibn Abi Sofyan di Syam; dan Amr ibn Al-’Ash (w. 65 H) di Mesir.

Dalam masa tugasnya sebagai seorang hakin di Kuffah, Abdullah bin Mas’ud benyak menjumpai problematika umat yang belum pernah ia jumpai di masa Rasulullah SAW atau belum dijelaskan secara mendalam. Padahal jika melihat dari kehidupannya, Ibn Mas’ud adalah orang yang begitu dekat dengan Nabi dan selalu menjadi pendamping ke mana saja Beliau pergi. Karena itu Abdullah bin Mas’ud dikenal dengan pernyataan bahwa “tidak satupun ayat Al-Qur’an turun kecuali ia tahu sebab turunnya”.

Sebagai seorang sahabat Nabi dan Hakim di Kuffah, tentunya menjadi harapan bagi masyarakat kala itu untuk dapat menjadikan Abdullah bin Masud sebagai rujukan dan tempat bertanya secara langsung atas apa yang menjadi persoalan kehidupan dan keberagamaan. Konteks dan suasana yang dihadapi Ibnu Mas’ud tenu berbeda dengan konteks dan suasana saat ia mendampingi Rasulullah di Hijaz. Kuffah merupakan kota yang cukup jauh dengan Madinah dengan budaya, tradisi, serta situasi sosial yang berbeda sebagai wilayah bekas kekuasaan Persia sebagaimana Syam.

Dalam Thabaqatul Fuqaha’ karya Abu Ishaq Asy-Syairazi, Abdullah bin Mas’ud hidup hidup sampai pada pemerintahan Utsman Ibn Affan. Pada tahun 32 H ia Kembali ke Madinah dan wafat pada tahun itu pula di usia genap 60 tahun. Khalifah Usman ikut menshalatkan jenazahnya saat itu dan kuburan Baqi’ menjadi pusara pemakaman Abdullah Ibnu Mas’ud.

Pengaruh Ibnu Mas’ud dalam Intelektualitas Islam

Seiring perjalanan Abdullah bin Mas’ud menjadi Hakim di Kuffah, menjadikan ia sebagai rujukan primer umat dalam mengadukan problematika kehidupannya sehari-hari. Dalam hal tersebut, Kuffah menjadi barometer lahirnya berbagai penafsiran Ibnu Mas’ud yang terhimpun dan sampai pada kita saat ini.

Sosok Ibnu Mas’ud menjadi representasi dari ulama Kuffah sebagaimana yang diuraikan oleh Abdul Wahab Khalaf. Ia merumuskan beberapa daftar pembagian ulama’ berdasarkan wilayah kepemimpinan Islam.

Abdul Wahab Khalaf mencatat bahwa sahabat-sahabat yang banyak terlibat dalam masalah penetapan hukum di Madinah adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq (w. 13 H/634 M), Umar bin Khattab (w. 23 H/644 M), Ustman bin Affan (w. 35 H/656 M), Ali ibn Abi Thalib (w. 40 H/661 M), Zaid bin Tsabit (w. 45 H/665 M) Ubay bin Ka’ab (w. 19 H/640 M), Abdullah bin Umar (w. 72 H/691 M), dan Aisyah. Di Mekkah di antaranya Abdullah bin Abbas (w. 68 H/687 M), untuk wilayah Kufah ialah Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H/653 M), di Bashrah terdapat Abu Musa al-Asy’ary (w. 44 H/664 M), di Syam Mu’adz bin Jabal (w. 18 H/639 M), dan di Mesir Abdullah bin Amr bin Ash (w. 65 H/684 M) dan Qaisy bin Abi Waqas.

Lebih jauh Abdu al-Wahab Khalaf memprediksi bahwa sahabat yang terlibat dalam ijtihad dan fatwa tidak kurang dari 130 orang, dan menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H/1350 M), dari sejumlah sahabat yang tersebut dikategorikan kepada tiga macam, yaitu sahabat yang paling banyak berfatwa, sahabat yang tergolong pertengahan memberikan fatwa, dan sahabat yang sedikit berfatwa. Ibn Mas’ud termasuk salah satu dari tujuh orang sahabat yang paling banyak berijtihad dan berfatwa.

Metode Ibnu Mas’ud dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Qiraat sering terdefinisi hanya sebagai varian baca Al-Qur’an yang terkait dengan lahjah dan pelafalan serta riwayat mengenai perbedaan tanda baca atau perbedaan diksi kalimat dalam ayat tertentu. Di luar dari hal tersebut, Ibnu Mas’ud yang juga turut menjadi salah satu Sahabat yang meriwayatkan qiraat Al-Qur’an ternyata menjadi rujukan para ulama dalam menafsir persoalan hukum.

Sebagai contoh adalah hukum atas pencuri dan puasa tiga hari “berturut turut”. Ayat mengenai pencuri yang termaktub dalam Al-Maidah ayat 38 yang artinya “dan Pencuri laki-laki juga pencuri perempuan maka potonglah tangan keduanya”.

Ibnu Mas’ud menggunakan redaksi berbeda dengan tidak menggunakan “Potonglah tangan keduanya” namun “potonglah tangan ‘kanan’ keduanya”. Ulama’ tidak serta merta menolak varian qiraat Ibnu Masud ini, namun malah menjadikannya solusi atas perbedaan pendapat dari para ulama yang bimbang terkait manakah tangan yang dipotong dan dalam ukuran apa batas pemotongan tangan tersebut.

Riwayat Ibnu Mas’ud tersebut menjadi penafsiran yang memberikan solusi bahwa dalam eksekusi potong tangan adalah tangan kanan dahulu. Jika pelaku mengulangi perbuatannya, maka kemudian barulah memotong tangan kirinya.

Perbedaan para ulama dalam periwayatan qiraat Al-Qur’an memang tidaklah menjadi persoalan. Rasulullah telah mengonfirmasi bahwa memang Al-Qur’an diturunkan menggunakan tujuh huruf (tujuh varian).

Perbedaan Qiraat

Selain hadis tentang Malaikat Jibril, hadis lain yang mengokohkan konfirmasi ini adalah sebagaimana yang hadis tentang Ubay bin Ka’ab:

“Dari Ubay bin Ka’ab ia bercerita, ”Suatu hari, aku membaca ayat al-Qur’an lalu Ibnu Mas’ud membaca ayat yang sama dengan huruf konfirmasi. “Bukankah engkau membacakan ayat yang demikian kepadaku?, tanyaku kepada Nabi. Nabi menjawab, “Ya, benar”. Kemudian Ibnu Mas’ud bertanya yang sama, “Bukankah engkau membacakan ayat yang demikian kepadaku?”.

Nabi menjawab, “Ya, benar”. Nabi lalu bersabda, “Kalian berdua sama-sama benar”. Aku bertanya lagi, “Lalu, siapa yang paling benar dan bagus?”. Ubay berkata, “Nabi lalu memukul dadaku dan bersabda”, “Wahai Ubay, aku dibacakan al-Qur’an, kemudian aku ditanya, “Satu atau dua huruf?”.

Malaikat yang ada di sampingku berkata, “Dua huruf”. Aku pun berkata, “Dua huruf”. Aku ditanya lagi, “Dua atau tiga huruf?”. Malaikat yang ada di sampingku berkata, “Tiga huruf”. Aku pun berkata, “Tiga huruf” sampai kepada tujuh huruf.

Nabi Lalu bersabda, “Tidak ada yang salah, semuanya benar dan mencukupi. Engkau boleh membaca, “Ghafur ar-Rahim, ‘Alimun Hakim, Sami’un ‘Alim, ‘Azizun Hakim atau yang lainnya selagi engkau tidak mengakhiri ayat azab dengan ayat rahmat atau ayat rahmat dengan ayat azab.”

Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, al-Sunan al-Sugra, Madinah:
Maktabah al-Dar, 1989, hadis no. 1053, juz 1.

Hadis di atas menunjukkan bahwa varian bacaan dalam Al-Qur’an memang merupakan hal yang wajar selagi masih bersumber dari Nabi dengan berlandaskan Riwayat sahih. Para ulama merumuskan terdapat tujuh qiraat yang paling kuat dengan tujuh iman qiroat serta 14 rawi.

Selain tujuh qiraat yang diakui, beberapa ulama juga berpegang pada tiga qiraat tambahan, sehingga total ada 10 qiraat. Dari kesepuluh qiraat tersebut, terdapat ulama yang menambahkan dua qiraat lagi sehingga terdapat 12 qiraat.

Pembahasan mengenai ilmu qiraat ini menjadi bahasan mendalam di bidang ilmu qiraat yang menjadi disiplin tersendiri dalam kerangka keilmuan Ulumul Qur’an.

Qiraat sebagai Perinci Makna Ayat yang Masih General 

Selain sebagai landasan penafsiran, qiroat juga berfungsi sebagai perinci dari argumentasi yang masih general atau juga dapat berfungsi sebagai pengkhusus dari argumentasi yang masih umum dari sebuah ayat tertentu. Sebagaimana dalam hukum jinayah pada topik potong tangan.

Pandangan ayat pada qiraat Imam Hafs rawi Ashim yang menggunakan ayat potong tangan pada pencuri dapat diperinci dengan qiraat Ibnu Mas’ud, yang menjelaskan bahwa tangan yang dipotong adalah tangan kanan terlebih dahulu.

Qiraat Ibnu Ma’sud tersebut menjadi argumentasi yang secara tidak langsung membantu para hakim atau ulama dalam memberikan sebuah keputusan saat sedang menangani kasus pencurian. Dalam penerapannya sebagai sebuah landasan yurisprudensi, qiraat mengambil peran penting dalam menjadi penafsir bacaan ayat Al-Qur’an kepada bacaan ayat Al-Qur’an lainnya.

Walaupun model qiraat sebagaimana riwayat Ibnu Mas’ud tersebut tidak diterapkan dalam ibadah mahdhoh, namun tetap memerlukan penghimpunan tersendiri, karna memiliki konsekuensi atas pembentukan hukum. Salah satunya dalam keilmuan ushul fiqih.

Selain ayat di atas, contoh penafsiran lain dari Ibnu Masud adalah sebagaimana dalam penggunaan qiroat yang berbeda pada surat al-Insyirah. Dalam ayat وَوَضَعۡنَا عَنۡكَ وِزۡرَكَۙ  “dan Kami telah meletakkan darimu bebanmu” Ibnu Masud menggunakan وحللنا عنك وقرك dan telah kami halalkan darimu kesalahanmu.

Sumber Referensi:

Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir Al-Qur’an, Yogyakarta: Idea Press, 2016 Cetakan ke-2.

Abdul Wadud Kasful Humam, “Menelusuri Historisitas Qiroat Al’Qur’an” dalam Jurnal Syahadah, Vol. III., No 1, April., 2015.

Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, al-Sunan al-Sugra, Madinah: Maktabah al-Dar, 1989, hadis no. 1053, juz 1.

Ali Akbar, “Ibnu Mas’ud: Pemikiran Fiqih dan Fatwanya” dalam Jurnal Ushuluddin Vol. XVI No 2, Juli 2010.

Busyro, “Pemikiran Hukum dan Fatwa Abdullah ibn Mas’ud” dalam Jurnal Al-Hurriyyah, Vol. 10, No. 2, Juli-Desember 2009.

Husain Adz Dzahabi, At Tafsir wa Al Mufassirun, Kairo, Daar Al Hadist, 2005.

Rahmat Nurdin, “Penggunaan Qiraat dalam Tafsir Maanil Qur’an Karya Al Farra”, dalam Jurnal Syariati Vol. III, No. 2, November 2017.

Haji dan Perjalanan Intelektualitas Islam Masa Kolonial

Legitimasi dengan penganugerahan sanad dari seorang guru kepada murid menjadi tradisi yang cukup dinantikan oleh ulama Nusantara yang berguru di perantauan. Mereka rela meninggalkan kampung halaman dan sanak saudara untuk tinggal dalam waktu yang tidak sebentar. Kerja keras dalam mendapatkannya begitu besar, terlebih pada saat itu, Indonesia masih berada dalam dominasi pihak kolonial Belanda.

Tidak semua orang dapat memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri apalagi Timur Tengah. Proses perjalanan mereka tidak hanya sebatas mengenai proses belajar dan penggemblengan keilmuan Islam semata, atau sebatas persiapan bahasa Arab yang akan mereka gunakan sehari-hari untuk berbagai keperluan. Namun juga mengenai persiapan-persiapan teknis, seperti ongkos perjalanan, relasi dan tempat tinggal di sana, hingga proses administrasi dan korespondensi.

Perjalanan Haji di Era Hindia Belanda

Perjalanan haji sempat dipersulit terkait faktor politik dan ekonomi, apalagi setelah pembatasan Belanda pada tahun 1716 dalam mengawasi hubungan ulama Indonesia dengan ulama luar negeri. Hal tersebut dengan terbitnya Besluit van 4 Agustus. Dengan keputusan ini, para calon jemaah haji bahkan ada yang sampai secara sembunyi-sembunyi diangkut oleh kapal dagang orang Arab.

Keputusan itu akhirnya berakhir setelah adanya terusan Suez pada tahun 1869. Belanda pun memutuskan untuk turut serta mengambil bagian sebagai perantara pengangkut jamaah haji pada tahun 1873. Karena silih bergantinya aturan ini, haji menjadi aktivitas langka, belum lagi mengenai jangka waktu perjalanan yang mencapai tiga bulan jika mulai dari Malaka dan Singapura dengan kapal layar.

Dalam penelitian Fauzan Baihaqi tentang Pelayaran Haji Hindia Belanda, perjalanan haji akan menjadi lebih singkat menjadi 19 hingga 25 hari jika pelayaran menggunakan kapal uap. Perjalanan Jemaah Haji terkadang harus berhenti di beberapa tempat, salah satunya di Aceh sebagai salah satu lokasi pemberhentian terakhir di Nusantara.

Karena hal ini pula, Aceh sebagai tempat orang-orang yang akan melangsungkan haji singgah, terkenal dengan julukan Serambi Makkah atau bumi emperan sebelum mereka kembali berlayar menuju Tanah Suci Makkah.

Perjalanan haji tetap populer meski dalam beberapa waktu tertentu terjadi wabah. Beberapa nasib buruk terjadi jika seseorang dari jamaah terjangkit wabah penyakit menular. Tidak jarang hal tersebut menjadi penyumbang angka kematian dari para jamaah. Kondisi penumpang yang terisolir di tempat yang sama di tengah lautan menjadi penyebab cepatnya penyebaran penyakit.

Kondisi di atas kian darurat, karena jumlah dokter yang siaga sangat terbatas, belum lagi obat-obatan. Terlebih bagi jamaah miskin yang tidak bisa membayar biaya pengobatan sebesar ƒ 4 Gulden. Kehidupan di kapal yang berdesak-desakan dengan berisi ribuan orang menjadi pemicu cepatnya penyakit menular. Hal ini sebagaimana catatan Dr. Ziesel yang menjadi petugas mengawal perjalanan haji di salah satu kapal pada tahun 1929.

Timur Tengah dan Awal Kecintaan Masyarakat Nusantara

Ide untuk mencari legitimasi ke Timur Tengah ternyata telah ada bahkan jauh sebelum era kolonial. Meski banyak resiko, tradisi perjalanan ke Tanah Suci dalam mencari legitimasi ini sudah ada sejak abad ke-17. Menurut Martin Van Bruinessen dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, pada 1630-an raja-raja Nusantara Islam sudah berpikir untuk meminta legitimasi ke Timur Tengah sebagai bentuk restu dari awal perintisan kerajaan Islam di Jawa dan Sunda. Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh kerajaan Mataram dan Banten.  

Utusan ini membawa misi mendapatkan legitimasi dari Syarif besar yang menguasai Tanah Haramain. Padahal sebenarnya di Makkah pun tidak terdapat lembaga kewenangan negara yang secara resmi berhak memberikan legitimasi sebagaimana yang dipercayai oleh kedua utusan kerajaan tersebut. Singkat cerita, Rombongan Banten pulang pada tahun 1638 dan rombongan dari Mataram baru pulang pada tahun 1641. Delegasi ini berhasil kembali dengan membawa gelar sultan untuk disematkan pada raja dan kain kiswah untuk dijadikan sebagai pusaka.

Silih bergantinya motivasi orang untuk berhaji mulai dari era legitimasi, era pendidikan dan jaringan, hingga era kelumrahan radisi. Saat ini haji dan umrah telah menjadi tradisi yang wajar. Semua orang dapat pergi ke Makkah Madinah. Ketika sudah melakukan umrah, maka dalam kepulangannya tidak lagi wajib membawa ijazah atau kitab kuning berbahasa Arab. Pergeseran tradisi ini menandai gaya dan karakter yang berubah yang mendefinisikan haji sebagai sebuah siklus keilmuan.

Baca Juga

Islam dan Ajarannya

KH. Munawwar, Pemangku Sanad Al-Qur’an di Pesisir

KH. Munawwar bin-Nur as-Sidawi menjadi tokoh sentral dalam Pendidikan Al-Qur’an di daerah Pantura yang berasal dari Kecamatan Sidayu Gresik Jawa Timur. Letak Kecamatan Sidayu berada 30 KM dari pusat Kota Gresik ke arah Barat Laut. Bentang geografis kecamatan ini berada di ujung pertemuan pesisir pantai utara dengan Bengawan Solo yang berakhir di hulu Kecamatan Ujung Pangkah.

Di lokasi tersebutlah pesantren yang didirikan KH. Munawwar (1884-1944 M) kemudian mendapat tempat di hati masyarakat yang juga turut membesarkannya. KH. Munawwar memulai pendidikan Al-Qur’an di Timur Tengah seiring kepergiannya ke Makkah dan Madinah. Di sana ia berguru pada Syaikh Abdul Karim Ibnu Haj Umar al-Badri.

Saat belajar ilmu Al-Qur’an di Timur Tengah, KH. Munawwar kemudian bertemu dengan seorang bernama KH. Munawwir (1970–1941 M). Ia merupakan salah satu putra terbaik dari Yogyakarta yang kelak menjadi salah satu kiai terkenal dengan Pesantren Krapyak. Berawal dari pertemuan, diskusi, dan perbincangan akan banyak hal, mereka berdua akhirnya menjadi teman yang cukup akrab.

Keakraban ini membuat suatu saat KH. Munawwir berhajat untuk menyampaikan kepada KH. Munawwar tentang suatu permintaan. KH. Munawwir mengutarakan untuk mengabadikan persahabatannya dengan meminta KH. Munawwar memberikan nama Munawwir kepada anaknya jika nantinya ia memiliki putra.

Hal tersebut kemudian ditunaikan oleh KH. Munawwar dengan menamai putra pertamanya dengan nama Munawwir. Kedekatan kedua ulama tersebut terjadi di Makkah dan Madinah dengan sama-sama belajar ilmu qiraat. KH Munawwir begitu mahir dan menguasai ilmu ini, hanya KH. Munawwar tidak sempat menuntaskan keseluruhan bacaan dari qiraah sab’ah dan hanya mengambil satu qiraah saja.

Sanad Al-Qur’an KH. Munawwar

Ketekunan beliau dalam menimba ilmu Al-Qur’an mengantarkan KH. Munawwar As-Sidawi berhasil mendapatkan sanad Al-Qur’an riwayat Hafs. Ia berada pada urutan ke-28 berdasarkan urutan sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW melalui Imam Asim di urutan ke-4 dan rawi Hafs di urutan ke-5. 

Berikut merupakan sanad K.H. Munawwar sebagaimana yang saat ini disimpan oleh putra beliau, yaitu K.H. Syafiq Munawwar: 

Munculnya tradisi legalitas keilmuan atau legitimasi sebagaimana dalam bentuk sanad ini menjadi cukup populer. Selain sebagai penanda otoritas dan kapasitas seorang ulama, sanad keilmuan menjadi batasan dan standar yang harus dilalui oleh seseorang untuk dapat dipertimbangkan sebagai seseorang yang dipersiapkan untuk maju menjadi pemuka publik. KH. Munawwar dan KH. Munawwir adalah contoh dua ulama yang dapat melampaui hal itu dan bahkan menjadi dua di antara lima ulama Nusantara yang memiliki sanad terdekat kepada Rasulullah SAW.

Baca Juga

Mushaf Al-Qur’an Terbesar di Dunia Ada di Indonesia

Menelusuri Jejak Penggunaan Tanda Baca dalam Al-Qur’an

Al-Kindi, Filsuf Muslim yang Haus Ilmu Pengetahuan

Al-Kindi, dunia mengenalnya sebagai “Filosof Arab”. Namun, Al-Kindi yang memiliki nama lengkap Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak Al-Kindi tidak hanya menguasai bidang filsafat saja, tetapi juga ilmu pengetahuan lain seperti astronomi, matematika, maupun geografi. Tak ayal, di kalangan cendekiawan Muslim dan cendekiawan Barat, ia terkenal sebagai saintis serba bisa yang mencintai ilmu pengetahuan.

Biografi Singkat Al-Kindi

Al-Kindi lahir di Kufah pada tahun 809 M. Ia lahir dan besar di tengah keluarga yang sarat akan ilmu pengetahuan. Bagaimana tidak? Ayahnya yang bernama Ishaq ibn Shabbah merupakan gubernur yang menjabat dalam beberapa kekhalifahan, yaitu pada masa Khalifah Al-Mahdsi, Al-Hadi, Harun Al-Rasyid, dan kekhalifahan Bani Abbasiyah. Namun, Al-Kindi tidak tumbuh besar bersama ayahnya, karena ketika ia masih kanak-kanak, ayahnya meninggal dunia.

Al-Kindi melewati masa kecilnya di Kufah dengan menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, mempelajari kesusastraan Arab, dan mempelajari ilmu logika. Apa yang ia pelajari merupakan kurikulum pelajaran wajib bagi seluruh anak-anak di wilayah Kufah pada zamannya. Ia pun kemudian mempelajari Ilmu Fikih dan Ilmu Kalam.

Lama menetap di Kufah, Al-Kindi lalu pindah ke Basra untuk menempuh pendidikannya. Pada masa itu, kota Basra terkenal sebagai tempat lahirnya gerakan terpelajar dan pusat ilmu pengetahuan yang memiliki dampak besar. Setelah menetap di Basra untuk belajar, ia lalu pindah ke Bagdad (Ibu Kota Bani Abbasiyah saat itu) untuk kembali menyelesaikan pendidikannya.

Di Bagdad, Al-Kindi memfokuskan minatnya untuk mengkaji filsafat dan pemikiran-pemikiran intelektual yang terkenal pada saat itu. Selain itu, ia juga banyak menerjemahkan buku filsafat. ia hidup selama masa kekhalifahan Bani Abbasiyah yaitu pada masa khalifah Al-Amin, Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, Al-Watiq, dan Al-Mutawakkil.

Karena pengaruh positifnya dalam ilmu pengetahuan dan filsafat, Al-Kindi menjadi ilmuwan yang disegani dan diangkat menjadi penasehat serta guru istana pada masa khalifah Al-Mu’tashim dan Al-Watiq. Selama abad ke-9 M, ia juga termasuk orang yang terkenal dalam dunia eksakta yakni ilmu kimia dan fisika. Saking cintanya terhadap ilmu pengetahuan, ia memiliki perpustakaan pribadi bernama AlKindiyah yang penuh dengan ribuan koleksi buku dari berbagai bidang ilmu. Koleksi tersebut merupakan sumber informasi belajar dan pengetahuannya.

Al-Kindi wafat pada tahun 252 H/866 M, yakni setelah masa khalifah Al-Mutawakkil dalam pemerintahan Bani Abbasiyah. Meskipun demikian, karya-karyanya senantiasa terkenang bagi para ilmuwan di seluruh dunia.

Peran Al-Kindi dalam Bidang Filsafat

Al-Kindi merupakan orang termahsyur di berbagai disiplin ilmu, termasuk di bidang filsafat. Semua karya terjemahan, koreksi, ulasan, dan karya aslinya membuatnya menjadi penggerak ilmu pengetahuan dan dikenal dunia. Selain itu, ia juga menjadi pelopor utama dalam memperkenalkan ihwal psikologi, astronomi, serta pendekatan yang berlandaskan metode logika dan ilmiah kepada muslim Arab.

Di samping terkenal sebagai ahli sains, ia terkenal akan pemikiran filsafatnya. Menurutnya, filsafat merupakan ilmu mengenai hakikat sesuatu dalam batas kesanggupan manusia yang mencakup ilmu ketuhanan, ilmu keesaan, ilmu keutamaan, dan segala kajian yang berguna bagi manusia dalam menjalani kehidupannya.

Selain itu, Al-Kindi juga mengemukakan bahwa tujuan para filsuf berteori ialah untuk mengamalkan pengetahuan tentang kebenaran tersebut. Semakin dekat manusia pada kebenaran, maka akan semakin dekat pula manusia pada kesempurnaan.

Pemikiran-pemikiran filsafat Al-Kindi mampu menuntunnya menjadi filsuf muslim pertama yang menyelaraskan antara filsafat dan agama. Karena menurutnya, alam semesta sangat luas dan terbatas, dan segala yang terbatas mustahil tidak memiliki awal yang tidak terbatas. Ia telah berkontribusi dalam membuka pintu-pintu filsafat bagi para ilmuwan muslim. Ia telah mendorong umat muslim agar menoleransi gagasan-gagasan filsafat dari luar Islam. Hal inilah yang membuatnya mendapatkan gelar faylasof (filsuf).

Karya Al-Kindi untuk Dunia

Al-Kindi telah melahirkan karya-karya yang luar biasa dan monumental di berbagai disiplin ilmu, seperti bidang astronomi, meteorologi, metafisika, geometri, ilmu hitung, maupun ilmu logika. Karya-karya tersebut tentunya merupakan buah pikirannya selama menempuh pendidikan di beberapa kota dan buah kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.

Di bidang astronomi, tercatat bahwa ia telah menyumbangkan pengetahuan berupa karya-karya, di antaranya:

  • Risalah fi Masa’il Su’ila anha min Ahwal al-Kawakib (jawaban terhadap berbagai pernyataan tentang keadaan planet-planet)
  • Risalah fi Fashlayn (tentang musim panas dan musim dingin)
  • Fi asy-Syu’a’at (tentang sinar bintang), dan lainnya.

Kemudian di bidang meteorologi, ia telah melahirkan karya di antaranya:

  • Risalah fi’illat Kawmu adh-Dha-bab (tentang sebab asal mula kabut)
  • Risalah fi ‘illat Ikhtilaf Anwa’us Sanah (tentang sebab perbedaan dalam tahun-tahun), dan lainnya.

Di bidang geometri, ia juga menyumbangkan pengetahuannya melalui karya, salah satunya yaitu Risalah fi ‘Amal Syakl al-Mutawassithayn (konstruksi bentuk garis-garis tengah). Kemudian di bidang ilmu hitung, salah satu karyanya yaitu Risalah fi al-Kammiyat, al-Mudhafah (tentang jumlah relatif), dan di bidang logika salah satu karyanya yaitu Risalah Risalatuhu fi Madkha al-Mantiq bi lstifa al-Qawl fihi (pengantar lengkap logika).

Pengaruh Al-Kindi dalam kajian, ulasan, dan karyanya memberikan pengetahuan yang baru bagi para ilmuwan Muslim dan ilmuwan Barat. Pemikiran Al-Kindi telah membuka pemahaman yang luas bagi para cendekiawan mengenai problematika tertentu. Untuk mengenang jasanya, pemerintah Irak dan Syria bahkan mengabadikannya dalam prangko.

Kontribusi Al-Kindi dalam peradaban ilmu pengetahuan dapat memberikan kita motivasi untuk terus belajar dan menebar kebermanfaatan di muka bumi ini, bukan? Karena sesungguhnya Allah Swt. akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu.

Sumber Referensi:

Madani, A. B. (2015). Pemikiran Filsafat Al-Kindi. 

Warsidi, Edi. 2016. Tokoh Matematikawan Muslim. Bekasi

Baca Juga

Al-Khawarizmi, Peletak Dasar Aljabar

Jabir Ibn Hayyan: Bapak Kimia Modern

Bagaimana Cara yang Tepat dalam Menulis Sosok?

Ta’awun dalam Islam

Ta’awun dalam Islam

Kita telah diajarkan konsep baik dan buruk oleh orangtua sejak kecil. Bahkan, bukan hanya orang tua saja yang berperan dalam membangun karakter dan kepribadian yang positif dalam diri kita, tetapi juga saudara dan lingkungan sekitar. Konsep tersebut tentunya lahir dari nilai-nilai kehidupan yang berkembang di masyarakat. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi sebuah aturan “penerimaan” dalam masyarakat, bahwa normatifnya, suatu komunitas sosial akan lebih mudah menerima orang yang berperilaku baik.

Ilmu pengetahuan juga tak menafikan bahwa setiap individu memang patut memiliki perilaku baik sebagai manifestasi kebahagiaan. Pernyataan ini merujuk pada penelitian University of Pittsburgh di Amerika Serikat terhadap 45 responden pada riset pertama, dan 400 responden pada riset kedua.

Penelitian tersebut memberikan para responden beberapa opsi. Seperti, opsi antara melakukan kegiatan yang menguntungkan dirinya, membantu teman yang sedang membutuhkan, atau melakukan kegiatan sosial. Berbeda pilihan, maka berbeda pula hasilnya. Studi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa menolong orang lain mampu memicu produksi endorfin dan mencegah stres.

Dalam Islam, berperilaku baik dengan menolong seseorang adalah hal yang mulia. Tentu saja menolong dalam konteks kebaikan. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Maidah ayat 2 yang artinya, “Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Istilah tolong menolong dalam Islam adalah ta’awun, yang berasal dari Bahasa Arab. Istilah ta’awun ini merujuk pada sifat tolong menolong oleh sesama manusia dalam kebaikan dan ketakwaan. Islam mengajarkan umatnya untuk ta’awun, karena ta’awun memberikan dampak serta manfaat yang positif bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga orang sekitar. Ta’awun dapat mempererat persaudaraan antara manusia (ukhuwah), membentuk sikap empati, serta menciptakan lingkungan yang damai.

Tolong Menolong antara Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin

Ukhuwah yang terbentuk dari tolong menolong sudah tertulis dalam sejarah melalui kisah kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kita ketahui bersama bahwa ketika kaum Muhajirin hijrah ke Madinah, mereka tidak membawa semua hartanya. Saat menetap di Madinah, kaum Muhajirin mendapati kebiasaan yang berbeda antara Makkah dan Madinah dalam hal kondisi tanah dan pekerjaan masyarakat sekitar.

Di Makkah dengan kondisi tanah yang gersang, masyarakatnya memiliki keahlian berdagang, sedangkan di Madinah dengan kondisi tanah yang subur, masyarakatnya memiliki keahlian bertani. Keadaan inilah yang membuat kaum Muhajirin harus berjuang beradaptasi dengan lingkungan baru. Melihat kondisi kaum Muhajirin yang kesulitan, kaum Anshar tak lantas tinggal diam, mereka turun tangan untuk membantu kaum Muhajirin.

Pengorbanan kaum Anshar ini terdokumentasi dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 9, “Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang mereka berikan kepada kaum Muhajirin; dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”

Melimpahnya Rahmat Tuhan karena Ta’awun

Tolong menolong merepresentasikan rasa cinta kita kepada makhluk Tuhan. Jika kita hidup dalam perasaan saling mencintai dan menyayangi, maka Tuhan akan mencintai kita selaku hamba-Nya.

Rasulullah saw. bersabda, “Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh makhluk-makhluk di langit.”

Hadits tersebut menggambarkan bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk saling menyayangi demi mendapatkan rahmat Allah Swt. Dalam konteks ini, Islam tidak membatasi kasih sayang tersebut hanya untuk kaum muslim saja, tetapi juga kepada semua makhluk meliputi manusia, binatang, maupun tumbuhan.

Muhammad al-Ghazali berkata, “Orang yang lemah lembut dan tenggang rasa terhadap rakyat jelata yang lemah adalah orang yang paling banyak mendapatkan rahmat Allah. Sedangkan orang-orang yang zalim, penjahat, dan sombong, mereka adalah penghuni neraka.”

Tenggang rasa berarti sikap menghargai dan menghormati perasaan orang lain, sikap tersebut dapat tumbuh dari perilaku ta’awun. Ketika kita mampu menghargai dan menghormati perasaan orang lain, di situlah kita memiliki kepedulian dan kesadaran untuk menghindari hati yang keras. Bukankah manusia yang paling jauh dari Allah adalah ia yang keras hatinya?

Betapa melimpahnya rahmat yang Allah Swt. berikan kepada mereka yang berlaku ta’awun. Tolong menolong bukan saja mempererat persaudaraan antar sesama manusia, tetapi juga mendekatkan diri ini kepada Allah Swt.

Sumber Referensi:

Firdausy, Royhan. 2020. Kenali Dirimu, Temukan Tujuan Hidupmu dari Allah, untuk Allah, hanya Allah. Jakarta: Alifia Books.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat