Pes: Lauk Buka Puasa anti Krisis Minyak Goreng

Pes tai lae

Netizen Indonesia sempat dihebohkan oleh Megawati yang mendemonstrasikan cara membuat lauk tanpa minyak goreng. Namun jauh sebelum itu, orang-orang di Lombok, khususnya area pedesaan, sudah terbiasa membuat lauk hanya dengan daun kelor atau ubi. Salah satu lauk yang cukup terkenal di Lombok adalah Pes, makanan khas lombok yang ditempat lain disebut juga pepes karena pembungkusnya menggunakan daun pisang.

Sebagai penduduk asli pesisir Lombok Timur, Kelangkaan minyak goreng bukanlah suatu masalah besar di kampung kami. Kami sudah terbiasa untuk mengolah minyak goreng dari kelapa, salah satu komoditas utama area pesisir. Proses pengolahan kelapa ini biasanya disebut njeleng. Dari hasil njeleng ini nantinya akan diperoleh bahan utama pembuatan pes. 

Njeleng dimulai dengan membelah kelapa lalu memarutnya. Hasil parutan akan diperas, setelahnya kelapa hasil parutan dipisah dengan hasil perasan. Apabila cuaca panas, hasil perasan biasanya dijemur seharian, jika mendung, maka Ibu saya akan menggunakan kobaran api. Pascapenjemuran, dilakukan proses penyaringan. Penyaringan akan menghasilkan minyak dan ampas, minyak kelapa biasa dipakai untuk menggoreng dan keperluan lain serta ampas minyak kelapa yang bisa menjadi bahan utama membuat pes.

Cara Pembuatan Pes

Proses pembuatan pes tidak terlalu rumit. Taruh bahan utama dan isian yang sudah dicampur secara merata di atas daun pisang yang sudah dibersihkan. Untuk memudahkan, gelar daun pisang dan potong agak panjang sebelum menaruh bahan. Setelahnya daun pisang digulung. Untuk menguatkan gulungan agar tidak mudah terbuka, lidi ditusukkan di kedua ujung daun. Dalam sekali proses njeleng, bisa dihasilkan bahan utama untuk dua sampai tiga gulungan pes. Gulungan-gulungan tersebut nantinya dibakar menggunakan arang, bisa juga sisa dari pembakaran setelah memasak daun kelor atau lauk lainnya. Jika ingin mendapat aroma yang lebih spesial, adonan pes bisa ditambahkan daun kemangi, boleh juga perasan atau daun jeruk nipis.

Sejauh yang saya amati, Ibu saya membuat pes dengan model yang cukup variatif. Variasi biasanya terletak pada isian dari pes, kadang dicampur ikan tongkol, ikan teri, udang, daging kambing atau sapi, bahkan beberapa kali Ibu saya mencampurnya dengan jantung pisang yang sudah dimasak.

Bagaimana Rasanya?

Masalah rasa, kelezatan pes tidak diragukan lagi. Pada umumnya, pes memiliki rasa asam yang khas, ditambah rasa sedikit pedas membuat lidah tidak ingin berhenti menyicipi. Di bagian terluar pes, biasanya ada bagian yang cukup gurih, bagian tersebut juga menjadi favorit para penikmat lauk ini.

Rasa dari pes juga sebenarnya masih bisa diatur sesuai selera. Bila tidak suka pedas, unsur cabai bisa dihilangkan, hal ini tidak menghapus esensi kelezatan. Bagi saya yang suka pedas, biasanya menambahkan jumlah irisan cabai agar pedasnya semakin terasa di mulut. Cabai yang sudah dibakar bersama pes selalu menggugah selera. Jika ingin mendapat lebih banyak bagian yang gurih, gulungan pes tinggal dibakar cukup lama sampai daun pisang terlihat mengering.

Cara menyantap pes biasanya diawali dengan membuka gulungan daun pisang dengan mencabut dua lidi di ujungnya atau membelah langsung daun pisang dari tengah. Saat dibuka, aroma kenikmatan pes biasanya langsung merasuki hidung. Pes ini umumnya digunakan sebagai lauk oleh masyarakat sekitar di desa Korleko Selatan tempat saya tinggal, boleh juga dimakan langsung tanpa nasi.

Ternyata, kelangkaan minyak goreng di bulan ramadhan 2022 membawa hikmah yang luar biasa. Ibu yang belakangan sering memakai minyak goreng bantuan Covid-19 untuk memasak, kembali memakai cara tradisional memanfaatkan kelapa yang kami petik dari kebun, dan hidangan pes yang super lezat bisa terhidang menemani buka puasa kami.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat