Qasidah Burdah Versi Sunda karya Kiai Ahmad Fadlil

Qasidah Burdah merupakan salah satu karya sastra Islam fenomenal dalam lintas tradisi sejarah. Ia merupakan hasil sentuhan tangan pujangga masyhur dari Mesir yaitu Imam al-Busyiri. Qasidah ini tercetus pada abad ke-13 Masehi yakni pada masa transisi perpindahan kekuasaan Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamluk.

Kisah Imam Busyiri menulis karyanya ini cukup fenomenal. Suatu ketika Imam al-Busyiri mengidap penyakit yang cukup parah dan dalam waktu yang amat lama. Ia menggunakan kesempatan itu untuk menulis berbait-bait syair. Kerinduannya kepada Nabi Muhammad saw ia lepaskan dalam bentuk syair-syair indah sembari memohon pertolongan kepada Allah swt agar disembuhkan penyakitnya.

Pada suatu malam ketika ia dalam keadaan tidur, Imam Busyiri bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya, Nabi Muhammad saw memberikan sebuah selendang (dalam bahasa Arab disebut burdah) dan diletakan di atas tubuhnya yang sakit. Saat Imam al-Busyiri bangun dari tidurnya, tiba-tiba sakit yang ia derita selama ini sembuh. Dari sana kemudian, gubahan syair-syair yang ia tulis selama ini ia namai dengan Qasidah Burdah.

Cerita-cerita tentang keajaiban sembuhnya Imam al-Busyiri pun tersebar ke seluruh pelosok dunia, hingga kemudian Qasidah Burdah dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Secara keseluruhan isi dari syair Qasidah Burdah ini mengandung pujian-pujian kepada Nabi Muhammad saw.

Struktur dari syair-syairnya tersebut sangat menyentuh dan mendalam. Tidak hanya itu, di dalamnya juga mengajarkan nilai-nilai tasawuf seperti syauq, mahabbah, zuhud, taubat, khauf, wara dan lain sebagainya.

Sosok Kiai Ahmad Fadhil

Di Indonesia, Qasidah Burdah seringkali didendangkan bersamaan dengan Barzanji ketika dalam acara-acara peringatan hari besar Islam terkhusus lagi dalam acara maulidan. Menurut sebagian kalangan, syair Qasidah Burdah dikenalkan oleh pedagang yang menyebarkan Islam dari Gazarat bersamaan dengan Barzanji. Alasan kuat diterimanya syair ini dan menjadi populer karena mengandung nilai-nilai sufistik yang sejalan dengan Islam di tanah Nusantara.

Qasidah Burdah diterjemahkan pada abad ke-19 oleh seorang kiai kharismatik yang juga seorang perjuang kemerdekaan, K.H. Ahmad Fadlil. Ia berasal dari Ciamis, Salah satu kabupaten bagian selatan Jawa Barat yang berdekatan dengan salah satu pantai terkenal, Pantai Pangandaran.

K.H. Ahmad Fadlil adalah sosok kiai yang sangat mencintai sastra. Ia juga merupakan kiai yang juga mencintai nilai-nilai lokalitas budaya. Pada tahun 1929, ia mendirikan sebuah pondok pesantren Cidewa yang saat ini kemudian berubah nama menjadi Darussalam Ciamis.

Pada tahun 1950, di usianya yang terbilang masih cukup muda, 40 tahun, ia wafat. Menurut dari beberapa cerita, ia wafat ketika sedang berjuang melawan penjajah Belanda di belantara hutan, hingga kemudian keberadaan makamnya sampat saat ini tidak ditemukan. Meskipun demikian, ia meninggal sebuah peninggalan yang amat berharga, yaitu murid-muridnya, pesantren dan karya sastra monumentalnya.

Keindahan Qasidah Burdah dalam Sastra Sunda

Qasidah Burdah memiliki keindahan dari struktur susunan bahasanya yang teratur. Ciri khasnya ialah akhiran mimiyat (dibaca secara bersama-sama) sehingga pendendangnya mudah dihafal. Selain itu, Qasidah Burdah juga dapat dibaca dengan berbagai irama lagu sehingga kemudian menjadi satu-satunya puisi kesustraan bahasa Arab yang paling kuat bertahan.

Mengacu pada struktur bahasa sastra Arabnya tersebut, Kiai Fadlil juga mampu menghadirkan terjemah sastra Sunda dari Qasidah Burdah yang memiliki keindahan khasnya. Ia juga mampu menghadirkan susunan menggunakan akhiran mimiyat di mana semua baitnya berakhiran i-i-i.


أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ
Naha emut ka tatangga mangkuk di tanah Dzi salam # Ceurik campur getih ngocor cai soca miwah sami


أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ
Naha selenting bawaning angin ti tanah kadimah # Atawa kolepat kilat waktos poek di Idomi


فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ
Geuning panon titah saat kalah ngocor oge ati # Titah cageur henteu lemper ngabibingung bae kami


أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ
Naha nyangka nu kapelet rasiahna mo kajudi # Padahal cisoca ngocor ati baringsang geus lami

Menurut Fadlil Yani (2009), terjemah sastranya memiliki gaya yang natural dan tersampaikannya amanat secara komunikatif. Hal ini kemudian sangat wajar mendapatkan apresiasi yang tinggi dari masyarakat tatar Sunda hingga kemudian mendapatkan gelar Ajengan Sastrawan.

Kiranya, ini menjadi warisan khazanah intelektual Islam yang tak ternilai. Terjemah ini merupakan ekpresi sastra Sunda Islam yang menampilkan lokalitas nilai-nilai sufistik dan memuat tata bahasa yang sarat akan kebudayaan lokal. Sampai saat ini, terjemah Sundanya tetap terus didendangkan dan diteruskan oleh putranya, kiai Irfan Hielmy (alm), hingga cucunya, kiai Fadlil Yani Ainusyamsi, bahkan dimusikalisasi olehnya dan juga sebagai terapi musik sufistik.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat