Abdullah bin Mas’ud dan Corak Khas Penafsirannya

Ibnu Mas'ud

Biografi Abdullah bin Mas’ud

Di antara tokoh yang menekuni kajian pemahaman Al-Qur’an di masa sahabat ialah Abdullah bin Mas’ud (w. 653 M). Ibnu Mas’ud menjadi salah satu tokoh kunci sebagai rujukan utama tafsir di masa sahabat yang sebanding dengan nama lain seperti Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas (w.687 M), Ubay ibn Ka’b (w. 640 M), dan Zayd ibn Tsabit (w. 665 M).

Pada masa ini, Ibnu Mas’ud dan sahabat penafsir lain belum terlalu mengemuka karna selain penyampaian masih berupa oral dari lisan ke lisan juga karena factor masih adanya Nabi Muhammad SAW sehingga apabila terdapat problematika berkaitan dengan Al-Qur’an bisa langsung mendapatkan jawaban dari Nabi sebagai manifestasi penyampai Kalamullah.

Husain Adzahabi dalam At-Tafsir wa Al Mufassirun menjelaskan bahwa nama Abdullah Ibnu Mas’ud adalah Abdullah Ibnu Ghafil yang nasabnya sampai pada Mudhar. Sedangkan nama kuniahnya adalah Abu Abdurrohman Al Hadzali. Sedangkan nama nasabnya ialah Abdullah bin Ghafil bin Syamakh bin Fail bin Makhzum bin Sahilah bin Kahil bin Al Haris bin Tamim bin Sa’ad bin Huzail bin Mas’ud. Ibnu Mas’ud juga akrab dipanggil Abu Abdurrohman.

Ibnu Mas’ud merupakan salah satu sahabat yang pertama masuk Islam. Ia adalah sahabat keenam yang bersyahadat. Ia sempat hjrah dua kali ke Habasyah dan mengikuti seluruh peperangan Bersama Nabi Muhammad. Menurut Sebagian Riwayat, Abdullah Ibnu Mas’ud ialah sahabat yang berhasil membunuh Abu Jahal.

Dalam Thabaqat al-Kubra li Ibn Sa’ad dan juga kitab Tadzkirah al-Huffazh dijelaskan bahwa Rasulullah pernah memberikan rekomendasi kepada para sahabat: “siapa yang ingin membaca Al-Qur’an dengan baik sebagaimana ia diturunkan oleh Allah, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Umm ‘Abd (Abdullah bin Mas’ud).

Menjadi Hakim dan Pengelola Baitul Mal

Saat Umar ibn Khattab menjadi khalifah, Abdullah bin Mas’ud didaulat menjabat sebagai hakim dan pengelola Baitul Mal untuk wilayah Kuffah periode Gubernur Amar bin Yasir (w. 37 H/657 M). Jabatan ini berlanjut sampai periode Sa’ad ibn Abi Waqas. Pengangkatan Abdullah bin Mas’ud terjadi seiring bersamaan dengan pengangkatan Abu Musa al-Asy’ari dan Anas bin Malik di Bashrah; Syarahbil ibn Hasanah di Ardan; Mu’awiyah ibn Abi Sofyan di Syam; dan Amr ibn Al-’Ash (w. 65 H) di Mesir.

Dalam masa tugasnya sebagai seorang hakin di Kuffah, Abdullah bin Mas’ud benyak menjumpai problematika umat yang belum pernah ia jumpai di masa Rasulullah SAW atau belum dijelaskan secara mendalam. Padahal jika melihat dari kehidupannya, Ibn Mas’ud adalah orang yang begitu dekat dengan Nabi dan selalu menjadi pendamping ke mana saja Beliau pergi. Karena itu Abdullah bin Mas’ud dikenal dengan pernyataan bahwa “tidak satupun ayat Al-Qur’an turun kecuali ia tahu sebab turunnya”.

Sebagai seorang sahabat Nabi dan Hakim di Kuffah, tentunya menjadi harapan bagi masyarakat kala itu untuk dapat menjadikan Abdullah bin Masud sebagai rujukan dan tempat bertanya secara langsung atas apa yang menjadi persoalan kehidupan dan keberagamaan. Konteks dan suasana yang dihadapi Ibnu Mas’ud tenu berbeda dengan konteks dan suasana saat ia mendampingi Rasulullah di Hijaz. Kuffah merupakan kota yang cukup jauh dengan Madinah dengan budaya, tradisi, serta situasi sosial yang berbeda sebagai wilayah bekas kekuasaan Persia sebagaimana Syam.

Dalam Thabaqatul Fuqaha’ karya Abu Ishaq Asy-Syairazi, Abdullah bin Mas’ud hidup hidup sampai pada pemerintahan Utsman Ibn Affan. Pada tahun 32 H ia Kembali ke Madinah dan wafat pada tahun itu pula di usia genap 60 tahun. Khalifah Usman ikut menshalatkan jenazahnya saat itu dan kuburan Baqi’ menjadi pusara pemakaman Abdullah Ibnu Mas’ud.

Pengaruh Ibnu Mas’ud dalam Intelektualitas Islam

Seiring perjalanan Abdullah bin Mas’ud menjadi Hakim di Kuffah, menjadikan ia sebagai rujukan primer umat dalam mengadukan problematika kehidupannya sehari-hari. Dalam hal tersebut, Kuffah menjadi barometer lahirnya berbagai penafsiran Ibnu Mas’ud yang terhimpun dan sampai pada kita saat ini.

Sosok Ibnu Mas’ud menjadi representasi dari ulama Kuffah sebagaimana yang diuraikan oleh Abdul Wahab Khalaf. Ia merumuskan beberapa daftar pembagian ulama’ berdasarkan wilayah kepemimpinan Islam.

Abdul Wahab Khalaf mencatat bahwa sahabat-sahabat yang banyak terlibat dalam masalah penetapan hukum di Madinah adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq (w. 13 H/634 M), Umar bin Khattab (w. 23 H/644 M), Ustman bin Affan (w. 35 H/656 M), Ali ibn Abi Thalib (w. 40 H/661 M), Zaid bin Tsabit (w. 45 H/665 M) Ubay bin Ka’ab (w. 19 H/640 M), Abdullah bin Umar (w. 72 H/691 M), dan Aisyah. Di Mekkah di antaranya Abdullah bin Abbas (w. 68 H/687 M), untuk wilayah Kufah ialah Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H/653 M), di Bashrah terdapat Abu Musa al-Asy’ary (w. 44 H/664 M), di Syam Mu’adz bin Jabal (w. 18 H/639 M), dan di Mesir Abdullah bin Amr bin Ash (w. 65 H/684 M) dan Qaisy bin Abi Waqas.

Lebih jauh Abdu al-Wahab Khalaf memprediksi bahwa sahabat yang terlibat dalam ijtihad dan fatwa tidak kurang dari 130 orang, dan menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H/1350 M), dari sejumlah sahabat yang tersebut dikategorikan kepada tiga macam, yaitu sahabat yang paling banyak berfatwa, sahabat yang tergolong pertengahan memberikan fatwa, dan sahabat yang sedikit berfatwa. Ibn Mas’ud termasuk salah satu dari tujuh orang sahabat yang paling banyak berijtihad dan berfatwa.

Metode Ibnu Mas’ud dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Qiraat sering terdefinisi hanya sebagai varian baca Al-Qur’an yang terkait dengan lahjah dan pelafalan serta riwayat mengenai perbedaan tanda baca atau perbedaan diksi kalimat dalam ayat tertentu. Di luar dari hal tersebut, Ibnu Mas’ud yang juga turut menjadi salah satu Sahabat yang meriwayatkan qiraat Al-Qur’an ternyata menjadi rujukan para ulama dalam menafsir persoalan hukum.

Sebagai contoh adalah hukum atas pencuri dan puasa tiga hari “berturut turut”. Ayat mengenai pencuri yang termaktub dalam Al-Maidah ayat 38 yang artinya “dan Pencuri laki-laki juga pencuri perempuan maka potonglah tangan keduanya”.

Ibnu Mas’ud menggunakan redaksi berbeda dengan tidak menggunakan “Potonglah tangan keduanya” namun “potonglah tangan ‘kanan’ keduanya”. Ulama’ tidak serta merta menolak varian qiraat Ibnu Masud ini, namun malah menjadikannya solusi atas perbedaan pendapat dari para ulama yang bimbang terkait manakah tangan yang dipotong dan dalam ukuran apa batas pemotongan tangan tersebut.

Riwayat Ibnu Mas’ud tersebut menjadi penafsiran yang memberikan solusi bahwa dalam eksekusi potong tangan adalah tangan kanan dahulu. Jika pelaku mengulangi perbuatannya, maka kemudian barulah memotong tangan kirinya.

Perbedaan para ulama dalam periwayatan qiraat Al-Qur’an memang tidaklah menjadi persoalan. Rasulullah telah mengonfirmasi bahwa memang Al-Qur’an diturunkan menggunakan tujuh huruf (tujuh varian).

Perbedaan Qiraat

Selain hadis tentang Malaikat Jibril, hadis lain yang mengokohkan konfirmasi ini adalah sebagaimana yang hadis tentang Ubay bin Ka’ab:

“Dari Ubay bin Ka’ab ia bercerita, ”Suatu hari, aku membaca ayat al-Qur’an lalu Ibnu Mas’ud membaca ayat yang sama dengan huruf konfirmasi. “Bukankah engkau membacakan ayat yang demikian kepadaku?, tanyaku kepada Nabi. Nabi menjawab, “Ya, benar”. Kemudian Ibnu Mas’ud bertanya yang sama, “Bukankah engkau membacakan ayat yang demikian kepadaku?”.

Nabi menjawab, “Ya, benar”. Nabi lalu bersabda, “Kalian berdua sama-sama benar”. Aku bertanya lagi, “Lalu, siapa yang paling benar dan bagus?”. Ubay berkata, “Nabi lalu memukul dadaku dan bersabda”, “Wahai Ubay, aku dibacakan al-Qur’an, kemudian aku ditanya, “Satu atau dua huruf?”.

Malaikat yang ada di sampingku berkata, “Dua huruf”. Aku pun berkata, “Dua huruf”. Aku ditanya lagi, “Dua atau tiga huruf?”. Malaikat yang ada di sampingku berkata, “Tiga huruf”. Aku pun berkata, “Tiga huruf” sampai kepada tujuh huruf.

Nabi Lalu bersabda, “Tidak ada yang salah, semuanya benar dan mencukupi. Engkau boleh membaca, “Ghafur ar-Rahim, ‘Alimun Hakim, Sami’un ‘Alim, ‘Azizun Hakim atau yang lainnya selagi engkau tidak mengakhiri ayat azab dengan ayat rahmat atau ayat rahmat dengan ayat azab.”

Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, al-Sunan al-Sugra, Madinah:
Maktabah al-Dar, 1989, hadis no. 1053, juz 1.

Hadis di atas menunjukkan bahwa varian bacaan dalam Al-Qur’an memang merupakan hal yang wajar selagi masih bersumber dari Nabi dengan berlandaskan Riwayat sahih. Para ulama merumuskan terdapat tujuh qiraat yang paling kuat dengan tujuh iman qiroat serta 14 rawi.

Selain tujuh qiraat yang diakui, beberapa ulama juga berpegang pada tiga qiraat tambahan, sehingga total ada 10 qiraat. Dari kesepuluh qiraat tersebut, terdapat ulama yang menambahkan dua qiraat lagi sehingga terdapat 12 qiraat.

Pembahasan mengenai ilmu qiraat ini menjadi bahasan mendalam di bidang ilmu qiraat yang menjadi disiplin tersendiri dalam kerangka keilmuan Ulumul Qur’an.

Qiraat sebagai Perinci Makna Ayat yang Masih General 

Selain sebagai landasan penafsiran, qiroat juga berfungsi sebagai perinci dari argumentasi yang masih general atau juga dapat berfungsi sebagai pengkhusus dari argumentasi yang masih umum dari sebuah ayat tertentu. Sebagaimana dalam hukum jinayah pada topik potong tangan.

Pandangan ayat pada qiraat Imam Hafs rawi Ashim yang menggunakan ayat potong tangan pada pencuri dapat diperinci dengan qiraat Ibnu Mas’ud, yang menjelaskan bahwa tangan yang dipotong adalah tangan kanan terlebih dahulu.

Qiraat Ibnu Ma’sud tersebut menjadi argumentasi yang secara tidak langsung membantu para hakim atau ulama dalam memberikan sebuah keputusan saat sedang menangani kasus pencurian. Dalam penerapannya sebagai sebuah landasan yurisprudensi, qiraat mengambil peran penting dalam menjadi penafsir bacaan ayat Al-Qur’an kepada bacaan ayat Al-Qur’an lainnya.

Walaupun model qiraat sebagaimana riwayat Ibnu Mas’ud tersebut tidak diterapkan dalam ibadah mahdhoh, namun tetap memerlukan penghimpunan tersendiri, karna memiliki konsekuensi atas pembentukan hukum. Salah satunya dalam keilmuan ushul fiqih.

Selain ayat di atas, contoh penafsiran lain dari Ibnu Masud adalah sebagaimana dalam penggunaan qiroat yang berbeda pada surat al-Insyirah. Dalam ayat وَوَضَعۡنَا عَنۡكَ وِزۡرَكَۙ  “dan Kami telah meletakkan darimu bebanmu” Ibnu Masud menggunakan وحللنا عنك وقرك dan telah kami halalkan darimu kesalahanmu.

Sumber Referensi:

Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir Al-Qur’an, Yogyakarta: Idea Press, 2016 Cetakan ke-2.

Abdul Wadud Kasful Humam, “Menelusuri Historisitas Qiroat Al’Qur’an” dalam Jurnal Syahadah, Vol. III., No 1, April., 2015.

Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, al-Sunan al-Sugra, Madinah: Maktabah al-Dar, 1989, hadis no. 1053, juz 1.

Ali Akbar, “Ibnu Mas’ud: Pemikiran Fiqih dan Fatwanya” dalam Jurnal Ushuluddin Vol. XVI No 2, Juli 2010.

Busyro, “Pemikiran Hukum dan Fatwa Abdullah ibn Mas’ud” dalam Jurnal Al-Hurriyyah, Vol. 10, No. 2, Juli-Desember 2009.

Husain Adz Dzahabi, At Tafsir wa Al Mufassirun, Kairo, Daar Al Hadist, 2005.

Rahmat Nurdin, “Penggunaan Qiraat dalam Tafsir Maanil Qur’an Karya Al Farra”, dalam Jurnal Syariati Vol. III, No. 2, November 2017.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat