Haji dan Perjalanan Intelektualitas Islam Masa Kolonial

haji

Legitimasi dengan penganugerahan sanad dari seorang guru kepada murid menjadi tradisi yang cukup dinantikan oleh ulama Nusantara yang berguru di perantauan. Mereka rela meninggalkan kampung halaman dan sanak saudara untuk tinggal dalam waktu yang tidak sebentar. Kerja keras dalam mendapatkannya begitu besar, terlebih pada saat itu, Indonesia masih berada dalam dominasi pihak kolonial Belanda.

Tidak semua orang dapat memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri apalagi Timur Tengah. Proses perjalanan mereka tidak hanya sebatas mengenai proses belajar dan penggemblengan keilmuan Islam semata, atau sebatas persiapan bahasa Arab yang akan mereka gunakan sehari-hari untuk berbagai keperluan. Namun juga mengenai persiapan-persiapan teknis, seperti ongkos perjalanan, relasi dan tempat tinggal di sana, hingga proses administrasi dan korespondensi.

Perjalanan Haji di Era Hindia Belanda

Perjalanan haji sempat dipersulit terkait faktor politik dan ekonomi, apalagi setelah pembatasan Belanda pada tahun 1716 dalam mengawasi hubungan ulama Indonesia dengan ulama luar negeri. Hal tersebut dengan terbitnya Besluit van 4 Agustus. Dengan keputusan ini, para calon jemaah haji bahkan ada yang sampai secara sembunyi-sembunyi diangkut oleh kapal dagang orang Arab.

Keputusan itu akhirnya berakhir setelah adanya terusan Suez pada tahun 1869. Belanda pun memutuskan untuk turut serta mengambil bagian sebagai perantara pengangkut jamaah haji pada tahun 1873. Karena silih bergantinya aturan ini, haji menjadi aktivitas langka, belum lagi mengenai jangka waktu perjalanan yang mencapai tiga bulan jika mulai dari Malaka dan Singapura dengan kapal layar.

Dalam penelitian Fauzan Baihaqi tentang Pelayaran Haji Hindia Belanda, perjalanan haji akan menjadi lebih singkat menjadi 19 hingga 25 hari jika pelayaran menggunakan kapal uap. Perjalanan Jemaah Haji terkadang harus berhenti di beberapa tempat, salah satunya di Aceh sebagai salah satu lokasi pemberhentian terakhir di Nusantara.

Karena hal ini pula, Aceh sebagai tempat orang-orang yang akan melangsungkan haji singgah, terkenal dengan julukan Serambi Makkah atau bumi emperan sebelum mereka kembali berlayar menuju Tanah Suci Makkah.

Perjalanan haji tetap populer meski dalam beberapa waktu tertentu terjadi wabah. Beberapa nasib buruk terjadi jika seseorang dari jamaah terjangkit wabah penyakit menular. Tidak jarang hal tersebut menjadi penyumbang angka kematian dari para jamaah. Kondisi penumpang yang terisolir di tempat yang sama di tengah lautan menjadi penyebab cepatnya penyebaran penyakit.

Kondisi di atas kian darurat, karena jumlah dokter yang siaga sangat terbatas, belum lagi obat-obatan. Terlebih bagi jamaah miskin yang tidak bisa membayar biaya pengobatan sebesar ƒ 4 Gulden. Kehidupan di kapal yang berdesak-desakan dengan berisi ribuan orang menjadi pemicu cepatnya penyakit menular. Hal ini sebagaimana catatan Dr. Ziesel yang menjadi petugas mengawal perjalanan haji di salah satu kapal pada tahun 1929.

Timur Tengah dan Awal Kecintaan Masyarakat Nusantara

Ide untuk mencari legitimasi ke Timur Tengah ternyata telah ada bahkan jauh sebelum era kolonial. Meski banyak resiko, tradisi perjalanan ke Tanah Suci dalam mencari legitimasi ini sudah ada sejak abad ke-17. Menurut Martin Van Bruinessen dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, pada 1630-an raja-raja Nusantara Islam sudah berpikir untuk meminta legitimasi ke Timur Tengah sebagai bentuk restu dari awal perintisan kerajaan Islam di Jawa dan Sunda. Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh kerajaan Mataram dan Banten.  

Utusan ini membawa misi mendapatkan legitimasi dari Syarif besar yang menguasai Tanah Haramain. Padahal sebenarnya di Makkah pun tidak terdapat lembaga kewenangan negara yang secara resmi berhak memberikan legitimasi sebagaimana yang dipercayai oleh kedua utusan kerajaan tersebut. Singkat cerita, Rombongan Banten pulang pada tahun 1638 dan rombongan dari Mataram baru pulang pada tahun 1641. Delegasi ini berhasil kembali dengan membawa gelar sultan untuk disematkan pada raja dan kain kiswah untuk dijadikan sebagai pusaka.

Silih bergantinya motivasi orang untuk berhaji mulai dari era legitimasi, era pendidikan dan jaringan, hingga era kelumrahan radisi. Saat ini haji dan umrah telah menjadi tradisi yang wajar. Semua orang dapat pergi ke Makkah Madinah. Ketika sudah melakukan umrah, maka dalam kepulangannya tidak lagi wajib membawa ijazah atau kitab kuning berbahasa Arab. Pergeseran tradisi ini menandai gaya dan karakter yang berubah yang mendefinisikan haji sebagai sebuah siklus keilmuan.

Baca Juga

Islam dan Ajarannya

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat