KH. Munawwar, Pemangku Sanad Al-Qur’an di Pesisir

kh. munawwar

KH. Munawwar bin-Nur as-Sidawi menjadi tokoh sentral dalam Pendidikan Al-Qur’an di daerah Pantura yang berasal dari Kecamatan Sidayu Gresik Jawa Timur. Letak Kecamatan Sidayu berada 30 KM dari pusat Kota Gresik ke arah Barat Laut. Bentang geografis kecamatan ini berada di ujung pertemuan pesisir pantai utara dengan Bengawan Solo yang berakhir di hulu Kecamatan Ujung Pangkah.

Di lokasi tersebutlah pesantren yang didirikan KH. Munawwar (1884-1944 M) kemudian mendapat tempat di hati masyarakat yang juga turut membesarkannya. KH. Munawwar memulai pendidikan Al-Qur’an di Timur Tengah seiring kepergiannya ke Makkah dan Madinah. Di sana ia berguru pada Syaikh Abdul Karim Ibnu Haj Umar al-Badri.

Saat belajar ilmu Al-Qur’an di Timur Tengah, KH. Munawwar kemudian bertemu dengan seorang bernama KH. Munawwir (1970–1941 M). Ia merupakan salah satu putra terbaik dari Yogyakarta yang kelak menjadi salah satu kiai terkenal dengan Pesantren Krapyak. Berawal dari pertemuan, diskusi, dan perbincangan akan banyak hal, mereka berdua akhirnya menjadi teman yang cukup akrab.

Keakraban ini membuat suatu saat KH. Munawwir berhajat untuk menyampaikan kepada KH. Munawwar tentang suatu permintaan. KH. Munawwir mengutarakan untuk mengabadikan persahabatannya dengan meminta KH. Munawwar memberikan nama Munawwir kepada anaknya jika nantinya ia memiliki putra.

Hal tersebut kemudian ditunaikan oleh KH. Munawwar dengan menamai putra pertamanya dengan nama Munawwir. Kedekatan kedua ulama tersebut terjadi di Makkah dan Madinah dengan sama-sama belajar ilmu qiraat. KH Munawwir begitu mahir dan menguasai ilmu ini, hanya KH. Munawwar tidak sempat menuntaskan keseluruhan bacaan dari qiraah sab’ah dan hanya mengambil satu qiraah saja.

Sanad Al-Qur’an KH. Munawwar

Ketekunan beliau dalam menimba ilmu Al-Qur’an mengantarkan KH. Munawwar As-Sidawi berhasil mendapatkan sanad Al-Qur’an riwayat Hafs. Ia berada pada urutan ke-28 berdasarkan urutan sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW melalui Imam Asim di urutan ke-4 dan rawi Hafs di urutan ke-5. 

Berikut merupakan sanad K.H. Munawwar sebagaimana yang saat ini disimpan oleh putra beliau, yaitu K.H. Syafiq Munawwar: 

Munculnya tradisi legalitas keilmuan atau legitimasi sebagaimana dalam bentuk sanad ini menjadi cukup populer. Selain sebagai penanda otoritas dan kapasitas seorang ulama, sanad keilmuan menjadi batasan dan standar yang harus dilalui oleh seseorang untuk dapat dipertimbangkan sebagai seseorang yang dipersiapkan untuk maju menjadi pemuka publik. KH. Munawwar dan KH. Munawwir adalah contoh dua ulama yang dapat melampaui hal itu dan bahkan menjadi dua di antara lima ulama Nusantara yang memiliki sanad terdekat kepada Rasulullah SAW.

Baca Juga

Mushaf Al-Qur’an Terbesar di Dunia Ada di Indonesia

Menelusuri Jejak Penggunaan Tanda Baca dalam Al-Qur’an

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat