ta'awun dalam Islam

Ta’awun dalam Islam

Kita telah diajarkan konsep baik dan buruk oleh orangtua sejak kecil. Bahkan, bukan hanya orang tua saja yang berperan dalam membangun karakter dan kepribadian yang positif dalam diri kita, tetapi juga saudara dan lingkungan sekitar. Konsep tersebut tentunya lahir dari nilai-nilai kehidupan yang berkembang di masyarakat. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi sebuah aturan “penerimaan” dalam masyarakat, bahwa normatifnya, suatu komunitas sosial akan lebih mudah menerima orang yang berperilaku baik.

Ilmu pengetahuan juga tak menafikan bahwa setiap individu memang patut memiliki perilaku baik sebagai manifestasi kebahagiaan. Pernyataan ini merujuk pada penelitian University of Pittsburgh di Amerika Serikat terhadap 45 responden pada riset pertama, dan 400 responden pada riset kedua.

Penelitian tersebut memberikan para responden beberapa opsi. Seperti, opsi antara melakukan kegiatan yang menguntungkan dirinya, membantu teman yang sedang membutuhkan, atau melakukan kegiatan sosial. Berbeda pilihan, maka berbeda pula hasilnya. Studi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa menolong orang lain mampu memicu produksi endorfin dan mencegah stres.

Dalam Islam, berperilaku baik dengan menolong seseorang adalah hal yang mulia. Tentu saja menolong dalam konteks kebaikan. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Maidah ayat 2 yang artinya, “Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Istilah tolong menolong dalam Islam adalah ta’awun, yang berasal dari Bahasa Arab. Istilah ta’awun ini merujuk pada sifat tolong menolong oleh sesama manusia dalam kebaikan dan ketakwaan. Islam mengajarkan umatnya untuk ta’awun, karena ta’awun memberikan dampak serta manfaat yang positif bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga orang sekitar. Ta’awun dapat mempererat persaudaraan antara manusia (ukhuwah), membentuk sikap empati, serta menciptakan lingkungan yang damai.

Tolong Menolong antara Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin

Ukhuwah yang terbentuk dari tolong menolong sudah tertulis dalam sejarah melalui kisah kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kita ketahui bersama bahwa ketika kaum Muhajirin hijrah ke Madinah, mereka tidak membawa semua hartanya. Saat menetap di Madinah, kaum Muhajirin mendapati kebiasaan yang berbeda antara Makkah dan Madinah dalam hal kondisi tanah dan pekerjaan masyarakat sekitar.

Di Makkah dengan kondisi tanah yang gersang, masyarakatnya memiliki keahlian berdagang, sedangkan di Madinah dengan kondisi tanah yang subur, masyarakatnya memiliki keahlian bertani. Keadaan inilah yang membuat kaum Muhajirin harus berjuang beradaptasi dengan lingkungan baru. Melihat kondisi kaum Muhajirin yang kesulitan, kaum Anshar tak lantas tinggal diam, mereka turun tangan untuk membantu kaum Muhajirin.

Pengorbanan kaum Anshar ini terdokumentasi dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 9, “Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang mereka berikan kepada kaum Muhajirin; dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”

Melimpahnya Rahmat Tuhan karena Ta’awun

Tolong menolong merepresentasikan rasa cinta kita kepada makhluk Tuhan. Jika kita hidup dalam perasaan saling mencintai dan menyayangi, maka Tuhan akan mencintai kita selaku hamba-Nya.

Rasulullah saw. bersabda, “Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh makhluk-makhluk di langit.”

Hadits tersebut menggambarkan bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk saling menyayangi demi mendapatkan rahmat Allah Swt. Dalam konteks ini, Islam tidak membatasi kasih sayang tersebut hanya untuk kaum muslim saja, tetapi juga kepada semua makhluk meliputi manusia, binatang, maupun tumbuhan.

Muhammad al-Ghazali berkata, “Orang yang lemah lembut dan tenggang rasa terhadap rakyat jelata yang lemah adalah orang yang paling banyak mendapatkan rahmat Allah. Sedangkan orang-orang yang zalim, penjahat, dan sombong, mereka adalah penghuni neraka.”

Tenggang rasa berarti sikap menghargai dan menghormati perasaan orang lain, sikap tersebut dapat tumbuh dari perilaku ta’awun. Ketika kita mampu menghargai dan menghormati perasaan orang lain, di situlah kita memiliki kepedulian dan kesadaran untuk menghindari hati yang keras. Bukankah manusia yang paling jauh dari Allah adalah ia yang keras hatinya?

Betapa melimpahnya rahmat yang Allah Swt. berikan kepada mereka yang berlaku ta’awun. Tolong menolong bukan saja mempererat persaudaraan antar sesama manusia, tetapi juga mendekatkan diri ini kepada Allah Swt.

Sumber Referensi:

Firdausy, Royhan. 2020. Kenali Dirimu, Temukan Tujuan Hidupmu dari Allah, untuk Allah, hanya Allah. Jakarta: Alifia Books.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat