Bagaimana Cara Menghadapi Kegagalan?

cara mengatasi kegagalan

Tahun 2021 telah berlalu. Saatnya kita membuka lembaran baru di tahun yang baru, 2022. Suatu saat, 2022 akan berganti dengan 2023. 2023 berganti menjadi 2024, dan seterusnya.

Apa yang biasanya orang-orang lakukan menjelang pergantian tahun? Refleksi atas semua capaian di tahun sebelumnya, kemudian membuat resolusi baru untuk tahun berikutnya? atau bahkan menulis ulang resolusi tahun tersebut untuk tahun depan karena ada beberapa target yang belum tercapai dalam jangka waktu setahun itu?

Bisa jadi.

Kenapa ada resolusi atau target tahunan yang isinya sama setiap tahunnya? Apa sebabnya target tersebut tidak tercapai? Mungkin di tahun tersebut ia sudah berusaha untuk merealisasikannya. Namun ada takdir yang berkata, “nanti dulu, target yang ini tidak harus tahun ini”.

Sebagian orang merasa santai, namun sebagian orang lagi bisa jadi menganggap hal tersebut adalah sebuah gagalan. It’s okey kalian menyebutnya seperti apa. Tapi, di awal tahun ini, mari saya ajak pembaca untuk refleksi diri, terlebih untuk yang sempat “merasa gagal” di tahun sebelumnya.

Kesulitan dan Kemudahan itu Satu Paket

Mari kita ingat kalam Tuhan yang satu ini;

“Karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-8)

Sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Tuhan menyebutkan kalimat tersebut dua kali secara berulang. Dua kali dan berulang. Artinya apa? Baik, seperti ini.

Setiap manusia tentu pernah mengalami kegagalan, bahkan tidak hanya satu kali dalam hidupnya, melainkan berkali-kali. Acap kali, kita menemukan celah di mana harapan yang kita miliki tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Di beberapa kondisi, hal tersebut membuat kita merasa sangat lelah dan (mungkin saja) menyalahkan ketetapan-Nya.

Merasa kecewa merupakan hal wajar ketika kita mendapati kesia-siaan di akhir ikhtiar. Namun, jika mengingat ayat-ayat Tuhan yang menjelaskan selalu ada kebaikan dalam setiap ketentuan-Nya, sungguh tak ada definisi kesia-siaan yang kita kenal. Percayalah, Tuhan menciptakan berbagai bentangan peristiwa tanpa pernah menanggalkan hikmahnya, begitu juga dengan kegagalan.

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Q.S Al-Baqarah: 269)

Mari Kita Refleksi Sejenak

Kegagalan adalah bagian dari proses kehidupan. Proses yang membuat kita dapat bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik melalui banyak pembelajaran. Jika kita renungkan kembali, betapa Tuhan itu Maha Baik karena telah membentuk diri kita menjadi progresif. Tentu saja dengan cara menghadirkan ujian.

Anak sekolah, untuk bisa naik kelas pun harus melewati berbagai ujian mata pelajaran juga kan? Bahkan mahasiswa yang pemikirannya sudah lebih luas pun masih harus menyelesaikan ujian tugas akhir (untuk tidak mengatakan ujian skripsi, tesis, disertasi -karena istilah ini sensitif untuk mahasiswa tingkat akhir-) agar bisa lulus dari kampusnya.

Kita akan bisa mengerti arti sebuah kesuksesan melalui kegagalan. Untuk bisa merasakan kenyang, bukankah kita harus lebih dulu merasakan lapar? Untuk bisa merasakan kebahagiaan, bukankah kita harus lebih dulu mencicipi bagaimana perasaan sedih itu?. Begitu pula untuk bisa merasakan keberhasilan, maka kita harus lebih dulu berjuang menghadapi kegagalan.

Tuhan menciptakan kegagalan, permasalahan, dan segala macam ujian untuk setiap manusia. Mengapa? Apakah Tuhan tidak menyayangi kita? Big no! Justru karena Tuhan sangat menyayangi hamba-Nya.

Bisa jadi, Tuhan memberikan ujian sebagai obat untuk membersihkan jiwa hamba-Nya. Atau mungkin saja Tuhan menurunkan cobaan untuk meninggikan derajat manusia di sisi-Nya serta untuk menyempurnakan imannya. Atau bisa jadi, Tuhan menghadirkan musibah untuk menjadikan manusia lebih berkualitas hatinya, lebih kuat, sabar, dan tegar. Sebab, Tuhan selalu menyisipkan kekuatan di setiap kelemahan dan selalu menyisipkan hikmah di setiap permasalahan.

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Yunus: 107)

Hal yang perlu kita ingat ialah, meskipun kegagalan dan ujian senantiasa hadir, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya begitu saja. Di antara ujian maupun cobaan yang kita alami, Tuhan senantiasa menjanjikan kebaikan atas segala macam permasalahan yang kita lalui. Dia menjanjikan kemudahan atas segala macam kesulitan yang kita jalani. Maka, ketika kegagalan itu datang menghampiri, adalah tugas kita untuk menghadapi.

Cara Menghadapi Kegagalan

Jika kita telah meyakini bahwa setiap ketetapan Tuhan memiliki hikmahnya, serta menyadari bahwa setiap manusia tentu akan mendapat ujian sesuai dengan tingkat keimanannya, maka kita akan dapat menghadapi kegagalan dengan kesabaran dan keikhlasan hati. Dalam konteks ini, bersikap sabar dan ikhlas bukan berarti menyerah terhadap keadaan, melainkan sebuah proses yang di dalamnya kita dapat bermunajat kepada Tuhan, berefleksi, introspeksi, dan berikhtiar.

Bersabar bukan berarti kita berdiam diri tanpa melakukan apapun. Melainkan giat untuk menyelesaikan segala macam ujian, giat untuk mencari solusi atas permasalahan yang hadir, dan tidak berputus asa meraih rida Ilahi.

“Orang-orang yang bersabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Hud: 11)

Sungguh, betapa beruntungnya orang-orang yang sabar. Sebagaimana syi’iran Arab berkata, Man shabara zafhira. Barangsiapa bersabar, maka ia akan beruntung. Siapapun yang sabar dan ikhlas ketika kegagalan menghampiri, maka ia akan mampu menyapa kegagalan dengan ketenangan hati. Karena dalam kesabaran tersebut, kita tentu mengingat Tuhan. Sebab itu, libatkanlah Yang Maha Kuasa dalam segala urusan yang kita miliki. Dengan begitu, kita akan mudah menerima dan mampu untuk terus melangkah menjejaki skenario indah dari Tuhan.

Ingatlah, Tuhan selalu memberikan yang terbaik di waktu yang menurut-Nya terbaik. Tugas kita harus selalu berhusnudzon, berhenti memperburuk keadaan dengan meratapi kegagalan, kembali bangkit untuk mengaktualisasikan diri, terus menebar manfaat, dan terus berupaya membangun masa depan sebagai tanggung jawab diri ini.

Doa semua orang yang selalu ku-amini, “Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya”.

Baca Juga

Islam dan Ajarannya

Tren Hijab dan Dampak Perubahan Sosial

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat