Mengulik Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa (2)

Arsitektur masjid agung sang cipta rasa

Kalau kemarin kita sudah kenalan dengan model arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, kali ini penulis akan membahas dari segi filosofi ornamennya nih, Sobat Kreatif.

Mungkin di artikel ini penulis belum bisa bahas semua model ornamennya ya. Tentu saja karena keterbatasan penulis. Soalnya banyak banget ornamen dan nilai filosofi yang ada di masjid bersejarah ini.

Filosofi Arsitektur dan Ornamen di Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Lur-kung

Ornamen dan arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa ini bersifat konstruksional, yakni hiasan yang menjadi satu dengan bangunannya. Pemberian gambar atau ukiran secara permanen di bagian-bagian bangunan, baik berupa stilisasi dari dedaunan dan bunga teratai menjadi dominan. Ornamen ini adalah lur-kung. Lur-kung artinya sulur yang melengkung, yang bermakna bahwa kehidupan manusia yang sulit dicari awal dan akhirnya.

Bagi yang belum tau gimana bentuk dari lur-kung, seperti inilah gambarannya:

Motif lur-kung pada Mihrab Masjid Agung Sang CIpta Rasa

Di kepala dan sekitar mihrab masjid ini, kita bisa lihat ya dominasi motif sulur-sulurnya. Tapi kalo gambarnya kurang jelas atau kalian masih penasaran, bakal lebih seru deh kalo liat langsung ke masjidnya. Ini serius. Penulis begitu juga soalnya. Lihat di gambar saja masih kurang jelas. Setelah tiba di lokasinya langsung, bisa lihat semua ornamen masjidnya dengan sangat jelas dan detail. Ya jelas lah ya..

Nanasan

Ragam hias nanasan berasal dari kata nanas. Ada yang belum tahu arti nanas?

Tentu saja ini nama buah nanas seperti yang kita kenal selama ini. Sebutan nanasan karena bentuknya yang mirip dengan buah nanas. Dalam seni rupa Islam, hiasan ini mirip dengan ragam hias muqarnas. Muqarnas ialah bentuk ragam dekorasi dalam arsitektur tradisional Islam dan Persia.

Nanasan dalam Ornamen Masjid Agung Sang CIpta Rasa

Ragam hias nanasan ini terdapat di langit-langit mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Warna nanasan menyesuaikan warna dinding mihrabnya, yakni putih. Selain berfungsi sebagai hiasan, motif ini juga untuk menambah keindahan suatu bangunan.

Makna filosofi dari nanasan ini adalah gambaran bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang lezat, orang harus mampu mengatasi sesuatu persoalan (makna duri pada buah nanas).

Padma

Padma berarti bunga teratai. Ragam hias padma ini adalah suatu perwujudan garis yang mengambil garis tepi bunga. Bentuk ragam hias ini berasal dari bentuk profil singgasana sang Budha yang berbentuk bunga padma atau tempat untuk bertumpunya bangunan stupa.

Ragam hias padma ini bisa kita lihat pada mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Hiasan padma terletak di sisi kiri dan kanan, terbuat dari pahatan batu-batu alam yang tersusun, seperti halnya pemasangan batu bata pada dinding. Penempatan hiasan padma ini berada di setiap alas tiang, baik untuk tiang soko guru maupun soko penanggap.

Bagi yang penasaran dengan hiasan padma, kira-kira seperti ini bentuknya:

Hiasan Padma atau Bunga Teratai

Selain untuk menambah keindahan, padma juga melambangkan kesucian. Secara sederhana, hiasan ini hanya bergaris lurus, seperti halnya pada bangunan pendopo dan landasan tiang-tiang soko guru pada bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Artinya, bersifat penuh kesucian. Selain itu, padma identik dengan makna yang kokoh dan kuat, tak tergoyahkan oleh segala macam bencana yang menimpanya.

Mega Mendhung

Mega mendhung berarti awan putih dan awan hitam. Dalam istilah bahasa Indonesia biasa disebut motif tepi awan atau pinggir awan, warna gelap dan terang. Mega mendhung dalam seni bangunan tradisional, terutama dalam mihrab masjid, berupa meander rangkap lengkung.

Motif Mega Mendhung pada Mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Ornamen berupa mega mendhung ini sudah terkenal sejak zaman prasejarah. Misalnya meander lengkung yang terdapat pada keramik galumpang pada zaman Hindu. Sebab itu, motif mega mendhung ini bersifat bolak-balik; gelap dan terang. Motif ini sebagai lambang bahwa manusia harus selalu ingat bahwa dunia ini memiliki sifat baik dan buruk dan segala yang ada di dunia ini selalu berpasang-pasangan.

Tlancapan

Tlancapan berasal dari kata dasar “tlacap”, yakni berupa ragam hias yang berupa deretan segi tiga sama kaki, sama tinggi, dan sama besar.

Maksud dari ragam hias tlancapan yang ada pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini merupakan gambaran sinar matahari atau cahaya sorot (sorotan). Artinya, sebagai suatu kecerahan atau keagungan.

Buat yang masih penasaran dengan detailnya, langsung saja kunjungi lokasinya ya, Sob. Posisinya di sebelah kiri Keraton Kasepuhan Cirebon. Cari di maps juga pasti ketemu. ehe.


Referensi:

Suwardi Alamsyah, “Nilai Budaya Arsitektur Masjid”.

Toipah, The Treasure Arts and Islamic Cultures: Mosques’ Architecture and Calligraphies in Archipelago, Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism, Vol. 9, No. 1, 2020.

Baca Juga

Mengulik Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon (1)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat