Mushaf Ali: Apa Bedanya dengan Mushaf Lain?

Mushaf Ali bin Abi Thalib

Dalam perjalanan sejarah Islam, ada berbagai manuskrip mushaf yang disandarkan kepada para sahabat. Mushaf-mushaf ini cukup penting dalam kajian Al-Qur’an karena mengandung unsur kredibilitas dan otentisitas tersendiri. Tapi, bukan hanya karena dikodifikasi oleh sahabat Rasulullah saw., melainkan karena mushaf ini memiliki karakteristik historis. Ia terhimpun dan tersusun berdasarkan urutan turunnya ayat mengikuti periode perjalanan dakwah Nabi. Perbedaan kodifikasi mushaf sahabat dengan mushaf yang kita baca adalah urutan suratnya yang cukup unik. Di antara beberapa mushaf tersebut adalah Mushaf Ali Ibn Abi Thalib yang sampai pada Ja’far Shadiq, cicit Husain bin Ali; Mushaf Ibn Abbas; hingga Mushaf Ibn Mas’ud.

Mushaf dengan tartib nuzuliy ini tentu menjadi pembanding tersendiri terhadap mushaf tauqifiy yang lebih popular di kalangan umat muslim, sebagaimana Mushaf Ubay bin Ka’ab dan Mushaf Utsman yang menjadi mushaf resmi kekhalifahan Islam. Daftar urutan surat pada mushaf dengan tartib nuzuli ini bisa kita lihat sebagaimana tabel berikut yang menyajikan perbandingan antara tartib nuzuli Ali Ibnu Abi Thalib (baris ketiga), Ibnu Abbas (baris keempat), dan beberapa tartib lainnya.

Perbandingan Urutan Surat dalam Beberapa Mushaf

Berikut daftar perbandingan urutan surat dalam Al-Qur’an versi kodifikasi Mushaf Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan Abu Bakar menurut Syahrasytani:

Urutan Surat dalam Kodifikasi Mushaf Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan Abu Bakar

Mushaf dengan urutan berdasarkan turunnya ayat ini cukup berbeda dengan Mushaf Utsmani. Ada nama surat yang hilang atau tidak tercantum, namun ada pula nama surat tambahan yang tidak terdapat dalam Mushaf Utsmani. Seperti Mushaf Ibnu Mas’ud yang tidak ada surat Al-Fatihah, Al-Falaq, dan An-Nas. Sedangkan Mushaf Ubay bin Ka’ab memiliki kelebihan pencantuman surat, yakni Surat Al-Khal’u dan Al-Khafdzhu.

Dalam daftar di atas, tidak menyebutkan surat Al-Gatsiyah. Asumsinya memang karena tidak terhimpun atau tereduksi dalam pencatatan terkait daftar surat dalam Muqaddimah Tafsir Mafatihul Asrar karya Syahrastani yang menjelaskan daftar surat Mushaf Ibnu Abbas yang menjadi murid Ali Ibnu Abi Thalib.

Tartib Nuzuli dalam Mushaf Ali bin Abi Thalib

Berbeda dengan tradisi Sunni yang lebih mengenal Mushaf Utsmani, Mushaf Ali bin Abi Thalib cukup popular di kalangan Syiah. Urutan surat berdasarkan kapan suatu ayat turun tentunya menjadi hal yang memiliki urgensi dalam memahami konteks dan alur dakwah Nabi. Mulai dari ayat pertama yang turun, menggambarkan awal perintisan dan perjuangan Nabi, hingga ayat yang terakhir turun, menggambarkan kemenangan Nabi dan akhir dari risalah.

Meskipun demikian, agaknya urutan ayat yang awal dan akhir turun ini sudah menyesuaikan urutan berdasarkan mayoritas ayat dalam suatu surat tertentu. Sebab itu, urutannya tidak serta merta menggambarkan ayat yang pertama dan terakhir turun, namun secara substantif merepresentasikan generalitas suatu surat yang pertama dan yang terakhir turun.

Sebagaimana pendapat Abdul Muta’al Ash Sha’idiy dalam karyanya An-Nadzmu Al Fanni Al Qur’an, bahwa terdapat versi yang agak berbeda tentang Tartib Nuzuli dalam Mushaf Ali bin Abi Thalib berdasarkan Tarikh Ya’qubiy. Yakni, surat-surat Al-Qur’an yang terkodifikasi dibagi ke dalam tujuh juz.

Pertama adalah kelompok Juz Al-Baqarah, kedua adalah Juz Ali Imran, ketiga adalah Juz An-Nisa, keempat adalah Juz Al-Maidah, kelima adalah Juz Al-An’am, keenam adalah Juz Al-A’raf, dan ketujuh adalah Juz Al-Anfal.

Juz Al-Baqarah meliputi surat 1–15; sementara Juz Ali Imran meliputi surat 16–31. Adapun Juz An-Nisa meliputi surat 32 – 47; Juz Al-Ma’idah meliputi surat 48-62; Juz Al-An’am meliputi surat 63-79, Juz Al-A’raf meliputi surat 80-95; dan dan Juz Al-Anfal meliputi surat 96-110. Sedangkan empat surat lain yang tidak masuk pada juz di atas adalah Surat Al-Fatihah, Ar-Ra’d, Saba’, dan Al-‘Alaq. Keempat surat tersebut masuk ke dalam surat lain atau tercampur ke dalamnya. Sebab, pada saat itu masih belum terjadi penetapan batasan antara awal surat dan akhir surat.

Hal lain yang membuat urutan mushaf ini cenderung berbeda adalah penggunaan penyebutan nama surat. Ada Surah Musa dan Surat Firaun yang tidak terdapat dalam Mushaf Utsmani. Menurut Ash Shaidiy, yang dimaksud Surat Musa adalah Surah Al-Qashash dan Surah Fir’aun adalah Surah At-Tahrim.

Sumber Referensi:

Tafsir Mafatih Al Asrar Karya Syahratstani, Teheran: Al Masyahim 2008.

Baca Juga

Menelusuri Jejak Tanda Baca dalam Al-Qur’an

Inovasi Percetakan Al-Qur’an Al-Quddus

Islam dan Ajarannya

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat