Islam dan Ajarannya

Islamic praying together

Islam disebarkan pertama kali pada abad ke-7 Masehi. Tidak kurang dari 1,5 miliar manusia yang telah menganut agama ini. Pembawa risalahnya tentu kita tahu, Nabi Muhammad SAW. Kata Islam kalau dalam bahasa Arab artinya berserah. Kata ini menunjukkan bentuk kepercayaan pengikutnya, Muslim, untuk senantiasa berserah diri pada kehendak Allah, tuhan semesta alam. Allah dipercaya sebagai tuhan yang mencipta dan menjaga segala aspek di alam semesta. Kehendak Allah diketahui melalui Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Nah, Nabi Muhammad inilah yang bertugas sebagai “penyambung lidah” tuhan kepada manusia. Selain Muhammad, muslim juga mempercayai keberadaan rasul selainnya, sering disebut 25 nabi dan rasul, seperti Adam, Idris, Nuh, Musa, Isa, dan lainnya. Dalam Islam, Muhammad bertindak sebagai penyempurna risalah para rasul sebelumnya sekaligus penutup para nabi dan rasul, khatamul ambiya wal mursalin, yang artinya tidak ada lagi rasul setelahnya.

Komunitas muslim awalnya hanya di Mekah, kota kecil di semenanjung Arab yang melayani transit pedagang ke berbagai tujuan. Sejak awal kemunculannya, Nabi Muhammad telah berusaha menyebarkan pemahaman keislaman ke berbagai daerah sekitar Mekah, meskipun lebih sering mendapatkan penolakan sih. Hijranya ke Madinah, kota di utara Mekah, pada tahun ke-10 kenabian membuka peluang ekspansi penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia seperti Afrika, Eropa, semenanjung India, Cina, hingga wilayah Nusantara. Alih-alih tunggal, persebaran ajaran Islam ke berbagai penjuru dunia ini tentunya menghasilkan keragaman praktik dan tradisi keagamaan. Setiap muslim bertempat disitulah muncul tradisi dan budaya keislaman yang punya ciri khas masing-masing.

Artikel ini akan mengulas tentang dasar kepercayaan dan praktik keagamaan Islam ya, sob. Beberapa hal fundamental ini akan menjadi pengetahuan dasar bagi seorang muslim agar menjadi lebih baik.

Pedoman Dasar Islam

14 abad yang lalu, Nabi Muhammad membangun komunitas muslim di semenajung Arab. Awalnya hanya komunitas kecil karena terdiri dari keluarga dan sahabat terdekatnya saja. Namun, berkat komunitas kecil inilah segala aspek dasar Islam dapat tersebar dan bertahan hingga saat ini. Hubungan dekat Nabi Muhammad dengan para sahabatnya menghasilkan keterikatan batin sehingga perjuangan egalitarianisme dapat terwujud. Semangat egalitarianisme ini pula yang dijadikan dasar hubungan sosial oleh setiap muslim. Pada masa ini dasar-dasar ajaran Islam dibentuk dan dijadikan pedoman menjalani kehidupan sehari-hari muslim generasi awal yang nantinya disistematisasi oleh generasi selanjutnya.

Upaya sistematisasi ajaran Islam dilakukan oleh ulama muslim jauh setelah wafatnya Nabi Muhammad. Upaya ini dilakukan untuk mempermudah sekaligus merespon perkembangan jumlah penganutnya. Tidak bisa dipungkiri, jumlah yang lebih banyak dengan “isi otak” umat muslim yang lebih beragam menuntut penerus ajaran Nabi untuk senantiasa berinovasi. Sesuai kata Nabi, awalnya umat muslim berpedoman pada Kalamullah dan sunah (jejak perilaku/teladan) Nabi ditambah sunah penerusnya, yang sering disebut khulafa al-rasyidin. Namun ulama sepakat menguraikan dasar agama Islam setidaknya pada 4 hal, Al-Qur’an, sunah, ijma’ (konsensus), dan qiyas (analogi).

Al-Qur’an

Secara harfiah berarti bacaaan, ialah kalam (kata-kata) tuhan yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Al-Qur’an terbagi menjadi 114 surah (bagian) yang terkumpul secara sistematis dalam bentuk buku (mushaf). Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah biasanya berisi ajaran tauhid, moral dan etika, serta hari pembalasan. Sedangkan pada periode Madinah, ajaran Al-Qur’an sebagian besar terkait dengan hubungan sosial serta prinsip politik-etis untuk mengatur kehidupan bermasyarakat.

Sunah

Sunah dalam istilah Arab pra-Islam menunjukkan hukum kesukuan atau hukum secara umum. Sedangkan muslim menggunakan istilah ini untuk menyebut teladan Nabi, yaitu perkataan, perbuatan, dan ketetapannya. Kompilasi sunah dilakukan ulama pada abad ke-3 Hijriyah dengan menyebutnya sebagai hadis (yakni laporan; atau kumpulan ucapan yang dikaitkan dengan Nabi). Hadis memberikan dokumentasi tertulis dari kata-kata, perbuatan, dan keketapan Nabi.

Ijma’

Yakni konsensus, diperkenalkan pada abad ke-2 Hijriyah untuk mengatasi perbedaan teori dan praktik hukum individu dan regional kaum muslimin. Ijma’ menjadi penting ketika persebaran Islam telah mencapai belahan dunia lain yang berbeda budaya dan tradisi. Ulama yang bersepakat harus memenuhi kriteria mujtahid dengan penguasaan ilmu keislaman yang mumpuni. Dengan demikian, Sunnah nabi dan Al-Qur’an dalam praktik kehidupan muslim sering kali berdasar pada kesepakatan para ulama ini.

Qiyas

Qiyas disisi lain menjadi bagian penting dalam menjawab problem kekinian di tubuh kaum muslimin. Awalnya Ijtihad menjadi bagian utama dasar ajaran islam sampai akhirnya terjadi keragaman pendapat yang menimbulkan perpecahan sehingga Qiyas (penalaran dengan analogi yang ketat) menjadi dasar pemecahan masalah. Metodologi Qiyas yakni dengan melakukan deduksi berdasarkan teks Qur’an dan Hadis sehingga problem kekinian mendapatkan legitimasi kuat.

Doktrin Islam dalam Al-Qur’an

Tuhan dan Makhluk

Doktrin tentang Tuhan dalam kitabullah itu sangat monoteistik: Tuhan itu esa dan unik; dia tidak memiliki pasangan dan tidak ada tandingannya. Meskipun kehadirannya diyakini ada di mana-mana, dia tidak menjelma dalam bentuk apa pun. Dia adalah satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta, di mana setiap makhluk menjadi saksi kesatuan dan ketuhanan-Nya. Muslim menyebutnya Allah dengan segala atributnya. setidaknya ada 99 nama yang dikenalkan pada setiap muslim untuk menujukkan setiap posisi tuhan dalam segala urusan manusia seperti keadailan (al-‘adl) dan kasih sayang (al-Rahman). Tuhan juda menyandang sifat-sifat seperti wujud, qidam, baqa dan lainnya yang berjumlah 20.

Di sisi lain, Tuhan (al-Khaliq/sang pencipta) menciptakan makhluk. Kalam Allah menginformasikan bahwa alam semesta beserta isinya ialah makhluk-Nya. Manusia hanyalah salah satu dari sekian banyak makhluk Allah yang ditugaskan untuk menaati perintah dan larangan-Nya. Berbeda dari makhluk lain yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap aturan tuhan, makhluk bernama manusia ini dapat memilih dan menentukan arah kehidupannya (meskipun tetap dalam aturan tuhan secara global) dengan Akal yang dikaruniakan Allah padanya. Wahyu yang diterima Nabi Muhammad ini mengaitkan makhluk dalam upaya menjelaskan setiap aspek ketuhanan kepada manusia.

Risalah/kenabian

Tuhan ialah entitas yang secara harfiyah tidak mungkin disentuh oleh makhluk. Namun, manusia membutuhkan arahan untuk tetap pada pilihan yang terbaik dalam mengarungi hidup di dunia. Inilah peran Rasul yang mampu menjadi penghubung tuhan dengan manusia. Rasul dipilih langsung oleh tuhan, bukan atas usaha tertentu. Tuhan berkomunikasi dengan para rasul dengan berbagai cara, seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad, ia berkomunikasi via Malaikat Jibril berkaitan dengan kalam Allah, sedangkan pada konteks lain sering pula berupa mimpi.

Para nabi yang juga manusia tentu berhubungan juga dengan manusia yang lain sebagai makhluk sosual. Tugas kenabian selain menyampaikan arahan jalur kebenaran dari tuhan juga melayani masyarakat dengan ikut serta menyelesaikan beragam problem. Mereka juga dikaruniai mukjizat yang dapat mendukung misi dakwahnya seperti Nabi Ibrahim yang tahan api saat dibakar kaumnya, Nabi Musa dengan tongkat pembelah lautnya, Nabi Isa yang lahir tanpa ayah, dan tentutnya Nabi Muhammad dengan al-Qur’an.

Eskatologi (Pasca-kiamat)

Dalam doktrin Islam, pada hari kiamat, orang mati akan dibangkitkan dan dihakimi sesuai dengan perbuatannya di dunia. Evaluasi yang dilakukan oleh Tuhan sangat mendetail pada setiap individu. Untuk membuktikan bahwa kebangkitan akan terjadi, Al-Qur’an menggunakan argumen moral dan fisik karena tidak semua pembalasan dilakukan di dunia, maka penghakiman terakhir diperlukan untuk menyelesaikannya.

Pada hari tersebut, manusia berkesempatan memperoleh Syafaat. Syafaat ini adalah bentuk belas kasih Allah pada manusia yang berbuat dosa tertentu. Nabi Muhammad dipercaya dapat memberikan syafaat bagi umatnya. Mereka yang dihukum akan dibakar api neraka , dan mereka yang diselamatkan akan menikmati sukacita di surga. 

Praktik dan Institusi Keagamaan Islam

Lima Pilar Islam

Pilar pertama ialah syahadat (pengakuan iman) yakni mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Pengakuan ini setidaknya dilakukan sekali seumur hidup dengan kesadaran dan ketulusan untuk berserah diri pada Allah. Pengakuan iman ini berkonsekuensi pula pada pengakuan terhadap 5 hal yakni, malaikat, rasul, kitab, hari akhir, dan qadha-qadar yang sering disebut 6 rukun iman.

Pilar kedua ialah salat. Salat merupakan doa yang ritualnya telah ditentukan, mulai dari takbiratul ihram hingga salam. Setiap muslim berkewajiban melaksanakan 5 kali salat yakni sebelum terbitnya matahari (subuh), setelah siang hari (duhur), sore hari (asar), setelah matahari terbenam (magrib), dan sebelum tidur (isya’). Salat dapat dilakukan secara individu ataupun secara berkelompok di masjid/musala. Pada setiap waktu salat biasanya para muazin mengumandangkan azan, seruan menunaikan salat.

Zakat (berderma) merupakan pilar Islam ketiga. Setidaknya zakat dilaksanakan oleh setiap individu pada bulan ramadan menjelang hari raya Idul Fitri. Bagi muslim yang berkecukupan harta, mereka juga berkewajiban menunaikan zakat mal untuk mensucikan hartanya setiap tahun. dalam hal zakat mal, 2,5 % harta wajib dikeluarkan setiap tahun pada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) baik secara langsung atau melalui lembaga amil (pengumpul zakat).

Pilar keempat yakni puasa yang dilakukan setiap tahun pada bulan Ramadan. Setiap muslim berkewajiban menahan lapar, haus, dan nafsu seksual selama puasa berlangsung mulai dari sebelum terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Pada beberapa tempat, waktu berpuasa bisa mencapai +-20 jam. Meskipun wajib, muslim yang dalam perjalanan atau sedang sakit bisa tidak berpuasa dengan mengganti di lain waktu atau membayar denda.

Pilar Islam terakhir adalah haji di baitullah yang terletak di Masjidilharam Mekah. Muslim yang berkemampuan baik fisik, spiritual, dan finansial berkewajiban untuk melaksanakannya. Haji dilakukan pada bulan Zulhijjah dengan ritual tertentu seperti wukuf (berdiam diri di wilayah Arafah), Sa’i (lari-lari kecil antara bukit safa dann marwa), dan tawaf (mengitari kakbah 7 kali).

Tempat dan Waktu yang Disucikan dalam Islam

Tempat paling suci bagi umat Islam adalah Kakbah di Mekah. Objek ziarah tahunan ini lebih dari sekadar masjid. Muslim meyakini bahwa kakbah merupakan tempat di mana kebahagiaan dan kekuatan surgawi menyentuh bumi secara langsung. Menurut tradisi Muslim, Ka’bah dibangun oleh Ibrahim. Masjid Nabawi di Madinah adalah tempat suci berikutnya yang ramai dikunjungi setiap tahun. Yerusalem mengikuti di tempat ketiga dalam kesucian karena dulunya sebagai kiblat pertama (yaitu, arah di mana umat Islam berdoa pada awalnya, sebelum kiblat diubah ke Kakbah) serta sebagai tempat Nabi Muhammad, menurut riwayat, memulai miʿrāj menghadap Allah.

Pada berbagai tempat di dunia juga tersebar tempat yang disucikan. Biasanya merupakan tempat bersejarah dan makam ulama kharismatik. Di Baghdad misalnya, makam Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ramai diziarahi setiap tahun. tidak luput pula makam para Wali Songo di pulau Jawa menjadi tempat yang disucikan oleh muslim setempat karena, salah satunya, peran serta mereka dalam mendakwahkan Islam.

Masjid yang tersebar hampir di setiap pemukiman penduduk merupakan tempat yang disucikan. Pada zaman Nabi dan khalifah awal, masjid adalah pusat dari semua kehidupan masyarakat, dan tetap demikian hingga hari ini. msjid menjadi tempat sentral kegiatan muslim mulai dari beribadah (salat, khutbah di hari jumat), pendidikan, hingga urusan sosial kemasyarakatan. Bahkan disekitar masjid juga banyak pedagang kecil yang ikut menggerakkan ekonomi kemasyarakatan.

Umat muslim biasanya mendapatkan hari libur setidaknya 2 kali dalam 1 tahun, yakni pada har raya Idul Fitri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Zulhijjah) pada penanggalan Hijriyyah. Di beberapa negara mayoritas muslim seperti Indonesia, hari libur keagamaan bisa lebih banyak seperti awal tahun Hijriyyah, Maulid Nabi Muhammad, dan beberapa hari sebelum berakhirnya bulan Ramadan.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat