MERTI DESA BENOWO, TRADISI YANG LESTARI

Merti Desa

Merti Desa, Tradisi yang Lestari.

Benowo, sebuah desa kecil di daerah pinggiran Kabupaten Purworejo, berbatasan dengan Magelang dan Yogyakarta. Desa Benowo terletak di salah satu perbukitan Menoreh, tepatnya menuju ke arah Gunung Kunir.

Ada sebuah situs sejarah peninggalan Pangeran Benowo yang dalam sejarahnya merupakan raja ketiga Kerajaan Pajang. Ia merupakan putra Jaka Tingkir, raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Pajang. Situs peninggalan tersebut yakni sebuah “petilasan”. Istilah petilasan ini masih simpang siur, karena beberapa pendapat menyebutkan bahwa situs tersebut adalah “makam”.

Hal ini terjadi karena tidak ada kesepakatan pendapat tentang hal tersebut. Bahkan lokasi pemakaman Pangeran Benowo konon tersebar di beberapa wilayah, seperti Kendal, Jombang, Pati, Solo. Salah satunya terdapat di Desa Benowo, Purworejo.

Peninggalan Pangeran Benowo

Terlepas di mana keberadaan makam Pangeran Benowo yang sesungguhnya, yang perlu kita ketahui adalah ada beberapa peninggalan Pangeran Benowo yang masih lestari hingga sekarang. Salah satunya adalah tradisi “merti desa”.

Merti Desa, sebuah tradisi tahunan yang dilaksanakan pada bulan tertentu. Tradisi ini bertujuan untuk menyampaikan rasa syukur pada Tuhan yang telah memberikan segala nikmat kepada desa tersebut.

Masyarakat Jawa pada umumnya tidak asing dengan tradisi Merti Desa. Walau demikian, waktu dan pelaksanaannya berbeda-beda sesuai dengan tradisi yang ada di masing-masing daerah. Secara umum, tradisi Merti Desa berisi serangkaian budaya lokal, seperti pagelaran wayang, kirab, dan lain-lain.

Sementara di Desa Benowo, tradisi Merti Desa dilaksanakan pada bulan Shafar. Uniknya, tradisi yang dilakukan bukanlah tradisi-tradisi yang sangat erat dengan lokalitas yang ada, melainkan melaksanakan ziarah kubur.

Ada lima tempat yang menjadi destinasi, yakni petilasan (atau makam) Pangeran Benowo, makam penderek Pangeran Benowo dan lainnya, dan sesepuh atau leluhur Desa Benowo. Seluruh warga desa, mulai dari dewasa, remaja, dan anak-anak serentak melakukan rangkaian kegiatan Merti Desa. Biasanya, kegiatan ini selesai saat memasuki waktu zuhur.

Bakda zuhur, seluruh warga berkumpul di balai desa untuk tumpengan (makan bersama) dengan seluruh warga selepas ziarah. Uniknya, makanan yang ada merupakan bawaan dari seluruh warga dari rumah masing-masing. Makanan ini dikumpulkan saat berkumpul di balai desa sebelum serentak berangkat untuk ziarah. Tanpa memandang status sosial, seluruh warga ikut andil dalam pelaksanaan Merti Desa tersebut.

Menurut cerita setempat, kultur ini mengalami sedikit pergeseran. Awalnya, warga desa Benowo mengadakan acara wayangan di balai desa pada malam harinya. Namun, atas keputusan bersama, warga desa menghilangkan acara wayangan dan fokus pada kegiatan di pagi harinya. Terlepas positif atau negatif pergeseran tersebut, namun nilai dan esensi tradisi Merti Desa Benowo tetap utuh. Pun masyarakat Desa Benowo masih melestarikannya hingga saat ini.

Baca juga Sate Kerbau, Warisan Toleransi Sunan Kudus

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat