INOVASI PERCETAKAN AL-QUR’AN AL-QUDDUS

Percetakan Al-Qur'an Al-Quddus

Inovasi Percetakan Al-Qur’an Al-Quddus.

Al-Qur’an merupakan kitab suci di mana pembacanya, baik mengerti makna maupun hanya membacanya, akan memperoleh pahala. Al-Qur’an bisa langgeng hingga saat ini tentu saja tak lepas dari interaksi dan inovasi Al-Qur’an dengan perkembangan yang ada, sehingga dapat mempertahankan minat baca umat muslim secara turun temurun.

Salah satu inovasi tersebut ialah percetakan Al-Qur’an. Percetakan Al-Qur’an sendiri berawal di tahun 1537-1539 M di Venice, bagian utara Italia, ibukota bagian Veneto. Pada waktu itu Al-Qur’an dicetak menggunakan mesin moveable type yang merupakan maha karya Johannes Guttenberg.

Inovasi Percetakan Al-Qur’an di Indonesia

Indonesia sendiri mulai mencetak Al-Qur’an antara akhir abad 19 M hingga awal Abad 20 M (1855-1960 M). Adapun mengenai orang yang memperkenalkannya pertama kali, banyak pendapat yang mengutarakan. Beberapa di antaranya adalah Muhammad Azhari di kota Palembang, Salim Nabhan dari Surabaya, Afif dari Cirebon, dan lain sebagainya.

Pencetakan Al-Qur’an ini terus berjalan hingga sekarang dan tentunya diimbangi dengan berbagai inovasi, baik dari sisi desain, model, bahan, dan lain sebagainya. Misal, kita bisa menjumpai Al-Qur’an yang menggunakan tanda warna untuk menjelaskan bacaan tajwid, penambahan terjemah, penjelasan cara baca pada kata-kata tertentu, dan masih banyak lagi.

Salah satu inovasi dalam dunia percetakan Al-Qur’an adalah percetakan Al-Qur’an Al-Quddus dari Ponpes Yanbu’ul Qur’an, Kudus. KH. Ulil Albab Arwani, pengasuh ponpes Yanbu’ul Qur’an, mencetak Al-Qur’an Al-Quddus dengan menggunakan rasm Usmani.

Waqaf Ibtida’ dalam Al-Qur’an Al-Quddus

Waqf Ibtida’ berfungsi untuk mengurangi kesalahan dalam membaca Al-Qur’an dengan pertimbangan perubahan makna dalam pembacaan. Al-Qur’an ini merupakan ijtihad dari KH. Ulil Albab Arwani dengan berlandaskan beberapa kitab yang membahas tentang waqf dan ibtida’. Pertimbangan lain adalah kekuatan nafas yang tentunya seringkali membuat umat muslim terpaksa melakukan waqf saat membaca Al-Qur’an.

Waqf ibtida’ di baris pertama, ditandai dengan dua panah yang saling berhadapan.

Hams Qiro’at Sab’ah

Inovasi ini tak berhenti begitu saja, Al-Qur’an Al-Quddus pun berkembang pada taraf kolaborasi dan disandingkan dengan kitab Qiro’ah Sab’ah karya KH. Arwani Amin Kudus, yakni Faidhul Barokat.

Kolaborasi Al-Qur’an Al-Quddus dan kitab Faidhul Barokat

Al-Qur’an ini ditujukan kepada para penghafal Al-Qur’an yang telah masuk pada tahap menghafal Qiraah Sab’ah agar lebih mudah dalam menghafalkan. Dari hal ini, kita dapat memahami bahwa dunia percetakan Al-Qur’an terus berkembang dan melakukan inovasi. Tujuannya tentu saja untuk mempermudah dan menarik minat membaca Al-Qur’an umat muslim.

Sumber:

Faizin, Hamam, Sejarah Pencetakan Al-Qur’an, Yogyakarta: Era Baru Pressindo, 2012.

Wawancara dengan KH. Ulil Albab Arwani.

Wawancara dengan Fahmi Najib, Editor Mushaf Al-Qur’an Al-Quddus.

(Miftahuddin, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat