Antara Humanisme, Feminisme, Sastra, dan Islam

Nilai Humanisme dan Feminisme dalam Tetralogi Pulau Buru Karya Pramoedya Ananta Tour

Masih hangat dalam ingatan kita tentang Tetralogi Pulau Buru, karya sang maestro sastra Indonesia, Pram. Tetralogi Pulau Buru merupakan sebuah nama untuk serangkaian empat novel Pramoedya Ananta Tour yang terbit mulai rentang tahun 1980 hingga 1988. Tetralogi Pulau Buru ini terdiri dari novel yang berjudul Bumi Manusia, Rumah Kaca, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah. Novel-novel ini lahir di balik jeruji penjara di Pulau Buru, tempat di mana sang maestro ini diasingkan oleh pemerintah Indonesia antara tahun 1965-1979. 

Novel-novel yang merupakan sastra pergerakan ini pernah dilarang beredar karena “dituduh” mempromosikan gagasan komunis. Padahal kenyataannya, dialog-dialog intens dan nilai-nilai yang terkandung dalam alur novelnya sangat nasionalis sekali.

Pram bercerita dalam konteks kolonial. Namun gagasan-gagasan pembaharuan yang Pram tuangkan dalam novelnya tersebut melampaui zamannya, alias postkolonial. Karya novel Pram tersebut melampaui kepentingan sastra, yakni ada pesan mendalam melalui “anak-anak rohaninya” yang ingin ia sampaikan kepada pembaca. Pram menyelipkan nilai-nilai humanis dan kesetaraan gender dalam novelnya yang berjudul Bumi Manusia.

Pram memunculkan peran perempuan sebagai tokoh sentral untuk membangun opini bahwa perempuan sebenarnya sangat berpengaruh dalam ideologi dan pengetahuan. Gagasan besar tersebut ia munculkan melalui Nyai Ontosoroh. Seorang perempuan miskin yang dijadikan gundik atau selir petinggi Eropa, dan muncul sebagai penebar pengetahuan kepada laki-laki.

Pada zaman kolonial, perempuan mengalami ketimpangan sosial berlapis. Perempuan ditindas melalui rasisme, seperti halnya Surati dan Sanikem (Nyai Ontosoroh) yang beridentitas perempuan Jawa. Mereka juga mengalami seksisme dan diskriminasi karena menjadi seorang berjenis kelamin perempuan. Perempuan Jawa menjadi rakyat kelas dua jika dibandingkan dengan orang-orang Belanda.

Pram dengan piawai menunjukkan bagaimana kuasa bergerak secara dinamis melalui karakter Nyai Ontosoroh. Di tengah kepungan feodalisme, Nyai Ontosoroh sebagai perempuan seorang diri dapat membangun kekuatan dan mempertahankan kuasanya.

Feminisme dalam Islam

Semangat humanisme dan feminisme yang dibangun Pram dalam sosok Nyai Ontosoroh sejalan dengan semangat yang dibawa Islam. Islam sama sekali tidak mempermasalahkan feminisme. Justru Islam lahir untuk membawa ajaran yang rahmatan lil ‘alamin, termasuk di dalamnya adalah perempuan.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa pada zaman jahiliyah, perempuan diposisikan sama seperti sebuah barang, yang bisa diperjual belikan, bisa ditukarkan, bahkan bisa dibuang. Namun sejak kemunculannya, Islam justru memuliakan perempuan. Islam menempatkan perempuan sewajarnya manusia, bukan barang dagangan, apalagi hewan. Pun mendukung para perempuan untuk berpartisipasi serta berkontribusi di ruang publik yang lebih luas seperti halnya laki-laki.

Rasulullah saw., the real Imam Besar umat Islam memiliki semangat yang besar dalam mewujudkan humanisme dan feminisme. Sayyidah Khadijah ra, istri pertama Rasulullah saw. merupakan seorang pengusaha yang ulet dan sukses. Bahkan sebelum menikah dengan Rasulullah saw., justru Rasulullah saw.lah yang bekerja kepada Khadijah ra. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa hormat dan taat Rasulullah saw. kepada Siti Khadijah ra yang saat itu merupakan “atasannya”.

Begitu pun dengan Sayyidah Aisyah ra yang merupakan istri termuda Rasulullah saw. Ia adalah salah seorang perawi hadis yang terkenal. Ia mendapatkan ruang publik untuk bebas bergerak dalam bidang pendidikan. Bahkan, ia pernah menjadi komandan perang (Perang Jamal) di awal kepemimpin khalifah Ali bin Abi Thalib ra.Kedua ummahatul mu’minin (ibu dari orang-orang yang beriman) tersebut merupakan sebuah bukti bahwa Islam mengakui dan meghormati eksistensi serta peran wanita dalam berbagai segmentasi kehidupan, baik dalam wilayah domestik maupun publik. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika menyebut Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, karena menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme, pun feminisme. Islam telah mengeluarkan perempuan dari keterkungkungan zaman jahiliyah yang sangat tidak memanusiakan perempuan. (Toifah)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kategori Artikel
Kanal Kreatif
Lebih dekat